Pefindo Targetkan 13 Juta Permintaan Informasi Kredit

PT Pefindo Biro Kredit menargetkan 13 juta permintaan informasi perkreditan pada tahun ini. Hal tersebut sejalan dengan semakin menggeliatnya sektor pengelolan informasi perkreditan, ditambah dengan semakin kuatnya upaya perusahaan dalam memodifikasi produk.
M. Richard | 24 April 2019 15:45 WIB
Presiden Direktur Pefindo Biro Kredit (PBK) Yohanes Arts Abimanyu (kiri) didampingi Wakil Pemimpin Redaksi Harian Bisnis Indonesia Chamdan Purwoko memberi penjelasan saat berkunjung ke kantor Bisnis Indonesia, di Jakarta, Kamis (1/3/2018). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA —PT Pefindo Biro Kredit menargetkan 13 juta permintaan informasi perkreditan pada tahun ini. Hal tersebut sejalan dengan semakin menggeliatnya sektor pengelolan informasi perkreditan, ditambah dengan semakin kuatnya upaya perusahaan dalam memodifikasi produk.

Presiden Direktur Pefindo Biro Kredit Yohanes Arts Abimanyu mengatakan bahwa pihaknya memang sudah tancap gas sejak pertama kali beroperasi pada 2017. Terlebih, Pefindo Biro Kredit merupakan salah satu pionir Lembaga Pengelola Informasi Perkreditan (LPIP) yang mendapat restu dari OJK. 

"Tahun 2017, kami mencetak 1,08 juta permintaan informasi perkreditan, 2018 menjadi 6,3 juta, dan pada 2019 ini kami targetkan 13 juta permintaan informasi perkreditan," katanya seusai Seminar Nasional Pefindo Biro Kredit, Rabu (24/4/2019). 

Dia mengatakan momentum pertumbuhan tersebut terlihat dari cukup menggeliatnya pertumbuhan kredit tahun ini. Bahkan, pada Februari 2019 pertumbuhan kredit perbankan secara nasional telah mencapai sekitar 12%. 

"Kalau kredit semakin meningkat artinya permintaan untuk pengelolaan informasi perkreditan juga akan semakin naik. Kami berharap dari sana," katanya. 

Di sisi lain, sebagai lembaga pionir, perusahaan juga aktif meningkatkan jumlah anggota guna menyediakan data yang lebih variatif dalam memenuhi permintaan pelanggan. 

Adapun, salah satu produk yang tengah dikembangkan adalah benchmarking. Produk ini memberikan penyedia jasa keuangan untuk mengetahui kondisi debiturnya dengan melihat kondisi sektor industrinya. 

Produk lainnya, perusahaan juga mengembangkan custom credit scoring, di mana penyedia jasa keuangan nantinya memiliki credit scoring yang khusus dikembangkan sesuai kebutuhan masing-masing klien. 

"Kalau saat ini credit scoring kan masih general, dan juga masih banyak hanya memanfaatkan Sistem Layanan Informasi Keuangan [SLIK]. Nah kami lebih maju lagi," ujarnya. 

Meski demikian, Yohanes mengakui cakupan pasarnya saat ini masih tergolong kecil. Pasalnya, masih banyak lembaga keuangan yang masih enggan untuk menggunakan jasa LPIP untuk mengelola informasi perkreditan.  

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pefindo biro kredit

Editor : Farodilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup