Bank Kecil Tunda Pembagian Dividen

Sejumlah bank kecil yang masuk dalam kategori Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) I dan II rata-rata menahan pembagian dividen pada laporan keuangan 2018.
Ipak Ayu H. N. & M. Richard
Ipak Ayu H. N. & M. Richard - Bisnis.com 31 Mei 2019  |  11:03 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah bank kecil yang masuk dalam kategori Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) I dan II rata-rata menahan pembagian dividen pada laporan keuangan 2018. Pasalnya, mereka ingin memperkuat permodalan, karena selama ini masalah modal kerap menghambat perluasan usaha kelompok bank tersebut.

Meski demikian, masih ada bank yang berupaya menjaga konsistensi dalam membagi hasil cuan yang diperolehnya. Salah satunya, PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk. (BRI Agro) yang sepakat membagi dividen sebesar 20% dari perolehan laba bersih tahun 2018 sebesar Rp204,12 miliar. Pembagian dividen sekitar Rp40,8 miliar atau setara Rp1,9 per lembar saham.

Sementara itu, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, dividend pay out ratio tersebut lebih rendah karena pada 2018 BRI Agro membagikan 38% dari laba bersih 2017.

Direktur Utama BRI Agro Agus Noorsanto mengkonfirmasi penurunan nilai pembagian dividen pada tahun ini. Menurutnya, hal itu dilakukan untuk memperkuat pemupukan modal dalam mendukung ekspansi bisnis dan rencana kenaikan kelas bank umum kelompok usaha (BUKU) III pada tahun ini.

Alhasil, diperlukan penambahan modal secara organik atau laba ditahan. Selain itu, perseroan memerlukan penambahan modal secara non-organik atau penyuntikan dana dari pemegang saham.

“Jadi secara industri saya melihat umumnya BUKU I dan BUKU II memang melakukan pemupukan modal yang masih diperlukan untuk peningkatan kapasitas bisnisnya,” katanya kepada Bisnis, belum lama ini.

BRI Agro pun memastikan, meskipun besaran dividen merupakan keputusan rapat umum pemegang saham tahunan atau RUPST, untuk dividen pada tahun buku 2019 perseroan akan menjaga pada kisaran yang sama minimal 20%.

Perseroan pun memandang dengan kondisi makro ekonomi yang belum stabil, perbankan akan siaga melalui pemupukan laba ditahan sehingga rasio kecukupan modal (capital adequecy ratio/CAR) tetap dalam kondisi aman.

Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada menilai, jika dilihat secara cakupan bisnisnya, eksposur kredit bank kecil tentu tidak sebesar BUKU III dan IV. Belum lagi, dengan kondisi itu, BUKU I dan II masih dihadapkan pada pengelolaan modal untuk kelancaran bisnis.

“Kalau BUKU besar ada kredit macet mungkin bisa mudah hapus buku dan masih tercover CAR yang memadai. Sementara BUKU kecil berbeda mereka masih lebih memilih upaya perbaikan agar tak sampai hapus buku,” ujarnya.

Menurut Reza, jika BUKU kecil terlalu sering hapus buku akibatnya akan menggerus CAR dan ketahanan bisnis berkurang.

Sementara itu, dari sisi perdagangan saham, Reza menilai sejauh ini anak usaha BRI masih memiliki kinerja yang baik. Di antaranya BRI Agro dan Bank BRI Syariah. Menurutnya, kedua saham di atas termasuk yang memiliki likuid tinggi dan menarik bagi investor.

Namun, Reza memastikan, kinerja satu bank belum tentu menjadikan ketertarikan investor masuk dengan mudah. Dia mencontohkan PT Bank BTPN Tbk. yang sejauh ini mencatatkan kinerja terus membaik, harga sahamnya belum likuid.

Oleh sebab itu, dua hal yang menentukan agar saham likuid, yakni peredaran saham harus cukup besar di kalangan investor dan komposisi investor. Umumnya investor korporasi tidak terlalu memperhatikan fluktuasi harga tetapi paling penting dividen yang besar yang mereka incar.

“Namun, kalau investor bisa seimbang itu lebih bagus. Proyeksi saya ke depan terkait dividen bank kecil jika secara bisnis mereka juga tak banyak berubah maka kondisi akan serupa dengan hari ini. Bank kecil akan lebih fokus mengejar kredit, kecuali ada sinergi,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank kecil, dividen

Editor : Farodilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top