Dana Kelolaan Bareksa Tembus Rp 2 Triliun

PT Bareksa Portal Investasi (Bareksa), fintech agen penjual reksa dana, mencatatkan total dana kelolaan saat ini mencapai Rp2 triliun, tumbuh sekitar 42,86% dibandingkan dengan capaian akhir tahun lalu senilai Rp1,4 triliun.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 25 Juni 2019  |  10:09 WIB
Dana Kelolaan Bareksa Tembus Rp 2 Triliun
Ilustrasi teknologi finansial - Flickr

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Bareksa Portal Investasi (Bareksa), fintech agen penjual reksa dana, mencatatkan total dana kelolaan saat ini mencapai Rp2 triliun, tumbuh sekitar 42,86% dibandingkan dengan capaian akhir tahun lalu senilai Rp1,4 triliun.

Chief Business Development Officer Bareksa Ni Putu Kurniasari mengatakan tidak sampai sampai 5 tahun, jumlah user Bareksa sudah mencapai 525.000 akun. Sebanyak 75% nasabah berumur di bawah 35 tahun.

“Pendekatan kami harus agak berbeda dengan apa yang kami lakukan sekarang. Kalau di area digital, kami mengedukasi orang dari sejak dini, maka kami fokus di area itu, jadi pendekatan kami dengan cara yang sesederhana mungkin,” tuturnya.

Bareksa merupakan platform fintech yang melakukan jual beli reksa dana. Selain itu, Bareksa juga memberikan layanan data, informasi, dan alat investasi reksa dana, saham, obligasi, dan lainnya, untuk memudahkan masyarakat berinvestasi.

Sebelumnya, Bareksa mengungkapkan target dana kelolaan hingga akhir tahun mencapai Rp9,8 triliun.

Agak berbeda dengan Tanamduit, Bareksa lebih memilih untuk memperbesar jangkauan bisnisnya dengan mengembangkan unit usaha baru yang menyasar nasabah berkocek tebal. Oleh karena itu, Bareksa belum lama ini membangun kantor cabang baru di Medan.

PT Bareksa Prioritas Indonesia (BPI) merupakan perusahaan penyedia fitur transaksi bagi investor reksa dana dan efek dari Bareksa.com. Bareksa Prioritas fokus pada nasabah premium dengan dana simpanan minimum Rp5 miliar.

“Kami sadari, mau sebagus apapun platform kita, tidak mungkin orang akan tiba-tiba datang ke website kita. Maka kami terus improve kolaborasi. Kalau di digital area kita tidak bisa kerja sendiri. Semua tim Bareksa percaya, tidak harus teknologinya yang bagus harus ada sesuatu yang membuat orang datang ke platform kita,” ujarnya.

Selain menggenjot jumlah nasabah, Bareksa menggeser portofolio menjadi saham dari sebelumnya fokus pada pasar uang. Porsi saham memang sekarang masih paling mini mengingat karakter investor saham biasanya berasal dari nasabah di level advance.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
reksa dana, Bareksa

Editor : Anggi Oktarinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup