Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

BI Diyakini Masih Punya Ruang Pangkas GWM

Perbankan menilai Bank Indonesia (BI) masih bisa kembali menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) sebagai upaya melonggarkan likuiditas.
Muhammad Khadafi
Muhammad Khadafi - Bisnis.com 17 Juli 2019  |  13:40 WIB
Karyawan menata uang rupiah di Cash Center Bank BNI di Jakarta, Rabu (10/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Karyawan menata uang rupiah di Cash Center Bank BNI di Jakarta, Rabu (10/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.comJAKARTA – Bank Indonesia (BI) disinyalir masih memiliki ruang untuk kembali memangkas Giro Wajib Minimum (GWM). Jika langkah ini diambil, maka pelonggaran likuiditas bagi perbankan diyakini lebih terasa.

Hal tersebut disampaikan Direktur Kepatuhan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Mahelan Prabantarikso.

“Mungkin BI masih mencari timing yang tepat saja,” katanya kepada Bisnis, Rabu (17/7/2019).

Pada awal Juli 2019, bank sentral memangkas aturan GWM sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 6 persen. Kebijakan ini diproyeksi dapat menambah likuiditas sekitar Rp25 triliun-Rp30 triliun.

Seperti diketahui, kondisi likuiditas perbankan dalam negeri mengetat seiring dengan pertumbuhan kredit yang jauh melampaui Dana Pihak Ketiga (DPK).

Hal itu pun membuat rasio likuiditas atau rasio simpanan terhadap kredit (Loan to Deposit Ratio/LDR) melebihi batas aman. Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), rasio LDR perbankan mencapai 96 persen per Mei 2019.

Adapun BTN termasuk Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) III yang mencatatkan rasio LDR tinggi. Per Juni 2019, rasio LDR bank milik negara ini mencapai 114,24 persen.

Sementara itu, pertumbuhan DPK bank pada 2 bulan terakhir cenderung melambat. DPK BTN tercatat tumbuh 15,89 persen per Juni 2019, di bawah posisi bulan sebelumnya yang naik 16,09 persen secara year-on-year (yoy).

Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Haru Koesmahargyo pun sebelumnya menyampaikan pemangkasan GWM bisa menambah likuiditas perbankan. Namun, belum cukup kuat menekan rasio LDR industri.

Pada kuartal II/2019, pertumbuhan DPK BRI tidak jauh berbeda dengan kuartal sebelumnya. Pertumbuhannya tercatat sekitar 12-13 persen secara tahunan, sedangkan rasio LDR cenderung tidak bergerak signifikan, yakni antara 92-93 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan likuiditas
Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top