BRI Agro Incar Rp700 Miliar Lewat Rights Issue

AGRO akan melakukan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu melalui penawaran umum terbatas IX tahun 2019 untuk mendukung rencana ekspansi bisnis. Total proyeksi penambahan permodalan yang diharapkan dari aksi korporasi tersebut sekitar Rp700 miliar.
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 18 Juli 2019  |  11:28 WIB
BRI Agro Incar Rp700 Miliar Lewat Rights Issue
Karyawan melakukan aktivitas di kantor cabang PT BRI Agroniaga Tbk, Jakarta, Rabu (26/9/2018). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com JAKARTA — PT Bank Rakyat Indonesia Agro Niaga Tbk. akan melakukan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu melalui penawaran umum terbatas IX tahun 2019 untuk mendukung rencana ekspansi bisnis.

Dalam prospektus yang disampaikan di Bursa Efek Indonesia, BRI Agro menyebutkan total jumlah saham baru yang akan diterbitkan sebanyak-banyaknya 3 miliar saham dengan nilai nominal Rp100 per saham, atau sekitar 12,32% dari jumlah saham yang ditempatkan dan disetor penuh dalam perseroan sebelum pelaksanaan PMHMETD IX.

Direktur Utama Bank BRI Agro Agus Noorsanto menyatakan, total proyeksi penambahan permodalan yang diharapkan dari aksi korporasi tersebut sekitar Rp700 miliar.

Dalam PUT kali ini, kata Agus, belum ada calon investor strategis yang akan menjadi standby buyer. Adapun dua pemegang saham terbesar, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. dan Dana Pensiun Perkebunan, diproyeksikan tidak akan menggunakan haknya.

“Target Rp700 miliar, ini kami tujukan untuk investor ritel, belum ada investor strategis,” katanya kepada Bisnis, Rabu (17/7/2019).

Apabila BRI tidak menggunakan haknya dalam PUT kali ini, kepemilikan saham bank terbesar di Indonesia itu akan terdelusi menjadi sekitar 76,35% dari saat ini sebesar 87,10%. Dengan asumsi yang sama, porsi saham yang dimiliki Dana Pensiun Perkebunan juga diproyeksikan akan berkurang menjadi 5,55% dari saat ini sebesar 6,33%.

Periode perdagangan dan pelaksanaan HMETD akan berlangsung pada 10-17 September 2019. Sebelum itu, emiten bersandi AGRO itu menggelar rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) pada 26 Juni 2019, diikuti dengan proyeksi tanggal efektif penyataan pendaftaran HMETD pada 27 Agustus 2019.

Lebih lanjut, AGRO menyatakan dana yang diperoleh perseroan dari hasil penawaran umum terbatas kali ini setelah dikurangi seluruh biaya terkait akan dipakai seluruhnya untuk memperkuat struktur permodalan perseroan dan mendukung rencana pertumbuhan kredit.

Agus memperkirakan, rasio kecukupan permodalan (capital adequacy ratio/CAR) perseroan dapat meningkat menjadi 27,5% usai penambahan modal.

Adapun, per Maret lalu, rasio CAR perseroan tercatat sebesar 26,93%, mengalami penurunan dibandingkan akhir 2018 dan 2017 yang masing-masing sebesar 28,34% dan 29,53%.

“Proyeksi kredit diharapkan bisa tumbuh menjadi sekitar 25% secara year on year,” kata Agus.

AGRO membukukan pertumbuhan yang cukup agresif dari sisi penyaluran kredit yang tumbuh 42,7% year on year (yoy) sepanjang 2018 lalu, yakni dari Rp10,98 triliun menjadi Rp15,67 triliun.

Adapun, pada kuartal I/2019 lalu, penyaluran kredit AGRO mencapai Rp16,3 triliun atau tumbuh 4,5% secara year to date (ytd) dari posisi akhir Desember 2018.

Sementara itu, rasio-rasio keuangan AGRO seperti kredit bermasalah (nonperforming loan/ NPL) cenderung meningkat ke level 2,87% pada akhir kuartal I/2019, dari sebelumnya 2,86% pada Desember 2018 dan 2,59% pada akhir 2017.

Rasio NPL net juga mengalami peningkatan ke level 2,16% pada akhir Maret 2019 dari sebelumnya sebesar 1,78% pada akhir 2018 dan 1,31% pada akhir 2017.

Di sisi lain, rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) perseroan juga meningkat tipis dari 82,99% akhir Desember 2018 menjadi 84,58% per akhir Maret 2019.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bri agro

Editor : Emanuel B. Caesario

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top