Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pelonggaran Kebijakan Moneter akan Berlanjut

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara memberi sinyal seiring dengan rencana penurunan suku bunga The Fed peluang BI kembali menurunkan suku bunga semakin besar.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 24 Juli 2019  |  01:00 WIB
Karyawan keluar dari gedung Bank Indonesia di Jakarta. - JIBI/Dedi Gunawan
Karyawan keluar dari gedung Bank Indonesia di Jakarta. - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia semakin yakin melakukan pelonggaran kebijakan moneter yang akomodatif tahun ini dengan menurunkan suku bunga acuan lagi seiring dengan sentimen dovish dari The Fed.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara memberi sinyal seiring dengan rencana penurunan suku bunga The Fed peluang BI kembali menurunkan suku bunga semakin besar.

“Pelonggaran kebijakan moneter akan berlanjut ke depan,” ujar Mirza dalam acara perpisahan pada hari terakhir jabatan sebagai BI 2, Selasa (23/7/2019).

Mirza membeberkan, kondisi ekonomi Indonesia akhirnya memanfaatkan penurunan suku bunga global untuk melakukan pelonggaran moneter.

Menurut Mirza menjadi sulit kalau pertumbuhan ekonomi melambat dan suku bunga AS naik disertai sikap The Fed hawkish. Dia memprediksi ekonomi di Indonesia akan kesulitan tumbuh.

“Tapi karena dovish kita turunkan bunga dan melakukan pelonggaran melalui penurunan rasio giro wajib minimum dan suku bunga ini msh akan berlanjut,” ungkap Mirza.

Baca Juga : Harga Emas Hari Ini

Dia menyebut bank sentral Indonesia sudah memberikan kode yang jelas tentang kebijakan moneter ke depan khususnya sesudah penurunan rasio GWM.

“Setelah suku bunga masih ada lagi peluang melonggarkan kebijakan moneter. Lalu ada juga kebijakan makroprudensial yang akomodatif,” tuturnya.

HIKMAH PERANG DAGANG

Mirza pun menyatakan kondisi ekonomi global yang sangat dipengaruhi perang dagang AS-China diprediksi tidak akan bertahan lama.

Dia memprediksi motif perang dagang ini adalah agenda politik Presiden AS. Utamanya dengan retorika tentang anti migran, impor luar Amerika, yang menjadi instrumen untumlk motif politik menghadapi 2020.

“Ini bukan fenomena permanen bagi ekonomi global. Tapi kemudian ini akan ada pada 2020 karena Pemilu baru November,” ungkapnya.

Mirza menyebut perang dagang bisa dimanfaatkan Indonesia untuk menangkap peluang beralihnya investasi asing yang ke China.

“Investasi itu beralih ke negara lain dan bagaimana kita menangkap diversifikasi dari investasi Tiongkok ke luar dari China,” tutur Mirza.

Dia menyebut saat ini yang berhasil menarik peluang investasi masuk ke negaranya adalah Vietnam dan Thailand. Oleh sebab itu Indonesia pun harus bisa menangkap peluang itu.

Adapun arah kebijakan fiskal untuk mendorong ekspor, keinginan fiskal untuk menangkap investasi yang keluar dari Cina menurut Mirza sudah mulai dilakukan pemerintah.

“Kini tinggal eksekusinya tapi perlu koordinasi antara pusat dan daerah, kementerian dan lembaga,” pungkasnya.

Dia juga mendorong upaya investasi dengan menaikkan volume ekspor melalui perjanjian bilateral multilateral dengan berbagai negara.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank indonesia
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top