Pegadaian Kembangkan Rekening Virtual untuk Tabung Emas

PT Pegadaian (Persero) mengembangkan rekening virtual yang berfungsi untuk transaksi guna meningkatkan animo masyarakat dalam menabung emas.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 28 Juli 2019  |  20:53 WIB
Pegadaian Kembangkan Rekening Virtual untuk Tabung Emas
Suasana layanan di kantor pusat Pegadaian, Jakarta, Rabu (3/7/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, JAKARTA — PT Pegadaian (Persero) mengembangkan rekening virtual yang berfungsi untuk transaksi guna meningkatkan animo masyarakat dalam menabung emas.

Direktur IT dan Digital Services Pegadaian Teguh Wahyono mengungkapkan, tren bisnis tabungan emas semakin meningkat. Di saat yang sama, transaksi digital di Pegadaian juga terus meningkat. Hingga Juni 2019, tabungan emas Pegadaian telah mencapai 3,1 ton dari target 5 ton hingga akhir 2019.

Saat ini, bisnis Pegadaian masih didominasi bisnis gadai hingga 90%. Sebesar 95%-nya berupa gadai emas. Masalahnya, emas yang digadaikan oleh nasabah dibeli dari toko yang berbeda dan dengan kondisi yang berbeda pula.

“Pekerjaan terbesar dari Pegadaian adalah menaksir barang tersebut, itu butuh waktu cukup panjang. Namun, kalau belinya dari Pegadaian, kami tidak perlu menaksir lagi, jadi menghemat biaya kami,” ujarnya, Jumat (26/7/2019).

Dengan demikian, Pegadaian meluncurkan produk rekening virtual yang disebut G-cash. Dia menjelaskan bahwa layanan ini bukan berupa e-wallet, melainkan layanan rekening perbankan yang diakses secara virtual. Selain itu, tidak ada limitasi untuk penyimpanan dana, seperti yang berlaku di e-wallet yang dibatasi hingga Rp10 juta.

“Manfaatnya seperti rekening [bank] biasa. Bisa digunakan untuk mengambil uang di ATM atau kantor cabang bank, transaksi pembayaran, dan lainnya,” katanya.

Untuk proses electronic know your customer (e-KYC) saat pendaftaran pertama, Pegadaian tengah menjajaki kerja sama dengan Dukcapil agar KYC dapat dilakukan secara elektronik dengan teknologi identifikasi wajah atau face recognition.

Teguh mengungkapkan, sebanyak 40% nasabah G-cash tidak melanjutkan pembukaan rekening di Pegadaian lantaran harus datang ke outlet untuk mengaktivasi rekening tersebut.

“Itulah kenapa kami ngotot supaya KYC. Ada tiga cara, yaitu pakai mic, tapi kita tidak tahu orang yang ada di depan siapa. Kedua, fingerprint, tetapi tidak bisa menyambung dengan Dukcapil karena spesifikasi finger print yang berbeda. Selain itu e-KTP reader,” katanya.

Untuk mencegah terjadinya risiko penyalahgunaan rekening, nasabah diharuskan memiliki PIN, sama seperti mobile banking perbankan. Pegadaian telah bekerja sama dengan dua bank BUMN, yakni BNI dan BRI.

Dia mengatakan, Pegadaian terus mengupayakan penyempurnaan produk digitalnya supaya dapat beroperasi dengan baik dan aman. Walaupun relatif mini, Pegadaian telah menyiapkan Rp500 miliar untuk belanja IT.

Adapun, beberapa layanan yang tersedia di dalam aplikasi digital Pegadaian di antaranya adalah pembelian emas, tabungan emas, gadai emas, dan lainnya.

Ke depannya, Teguh berencana mengintegrasikan G-cash untuk mendukung produk micro lending digital yang saat ini masih dalam tahap pengembangan.

“Ini berguna untuk mendorong inklusi keuangan supaya orang menggunakan non cash. Nantinya, kami juga akan kerja sama dengan OVO untuk membayar dan menerima uang dari situ.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pegadaian

Editor : Emanuel B. Caesario

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top