Pangkas Suku Bunga Acuan, BI Dorong Permintaan Domestik

Bank Indonesia memutuskan menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dari 5,75% menjadi 5,5% untuk menstimulus permintaan khususnya untuk menambah likuiditas pembayaran.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 22 Agustus 2019  |  17:10 WIB
Pangkas Suku Bunga Acuan, BI Dorong Permintaan Domestik
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan penjelasan pada jumpa pers mengenai hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia di Jakarta, Kamis (21/3/2019). Bank Indonesia memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate (BI 7DRR) sebesar 6,00 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75 persen. Bisnis - Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia memutuskan menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dari 5,75% menjadi 5,5% untuk menstimulus permintaan khususnya untuk menambah likuiditas pembayaran.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan, keputusan ini merupakan langkah preventif atas kemungkinan dari perlambatan ekonomi dunia. Keputusan ini juga sebagai strategi kerja sama dengan pemerintah merumuskan kebijakan fiskal guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

“Kalau kami lihat, pola pertumbuhan ekonomi kita memang kita sudah tahu kuartal II/2019 itu 5,05%. Kalau lihat komposisi masih cukup oke karena stimulus fiskal, khususnya bantuan sosial,” jelas Perry di Kantor Bank Indonesia, Kamis (22/8/2019).

Saat ini, sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah permintaan domestik di samping konsumsi juga investasi. Pada kuartal II/2019, investasi tumbuh 5% dengan rincian bangunan sebesar 5,46% dan non bangunan 3,7%. Perry menyatakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ke depan, BI perlu mendorong permintaan domestik, menjaga konsumsi, dan mendorong investasi bangunan maupun non bangunan.

“Oleh karena itu, bauran kebijakan kita memang kita arahkan ke sana, baik dari sisi moneter maupun makroprudensial,” terangnya.

Asal tahu saja, sepanjang 2019 ini, BI sudah menurunkan suku bunga acuan dua kali. Pertama, pada Juli 2019 sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% dari sebelumnya 6%. Berikutnya dalam Rapat Dewan Gubernur Agustus 2019 juga kembali menurunkan 25 basis poin menjadi 5,50%. Melalui dua kali pelonggaran kebijakan moneter ini, Perry berharap bisa mendorong permintaan pembayaran dari sisi korporasi dan rumah tangga.

Dia memprediksikan, penurunan suku bunga ini akan mendorong rendahnya biaya investasi oleh korporasi, sehingga akan mendorong peningkatan investasi.

“Peningkatan permintaan investasi akan mendorong pertumbuhan ekonomi dari sisi investasi, dan permintaan untuk pembiayaan dari perbankan maupun non perbankan, pasar dalam negeri maupun yang lain,” jelas Perry.

Selain fokus mendorong permintaan, Perry menilai kepurusan ini juga bisa mendorong sisi penawaran pembiayaan, termasuk kredit perbankan. Menurut dia sejumlah langkah yang diambil Bank Indonesia adalah cara memudahkan perbankan menyalurkan kredit. Salah satu contoh adalah ketika BI menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM), sebesar 50 basis poin agar mendorong kredit.

Perry mengklaim, pascapenurunan GWM, semua suku bunga kredit telah turun baik kredit modal kerja maupun kredit konsumsi. Dia juga mengklaim, suku bunga kredit rata-rata (y-t-d) turun sebesar 6 basis poin. Ke depan Perry memprediksi masih ada peluang penurunan secara (y-o-y) sampai 30 basis poin.

RESPONS GLOBAL

Tak hanya mendorong permintaan dalam negeri, Perry tak menampik adanya faktor eksternal yang turut mempengaruhi hasil pelonggaran suku bunga acuan. Pasalnya, pelemahan rupiah ketika tensi perang dagang menguat beberapa waktu lalu juga menjadi pertimbangan bank sentral.

Selain itu juga perekonomian AS yang tumbuh melambat akibat menurunnya ekspor dan juga investasi nonresidensial. Begitu pula pertumbuhan ekonomi Eropa, Jepang, China, dan India yang juga lebih rendah dipengaruhi penurunan kinerja sektor eksternal serta permintaan domestik.

Guna merespons dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi tersebut, berbagai negara melakukan stimulus fiskal dan memperlonggar kebijakan moneter, termasuk bank sentral AS pada Juli 2019 menurunkan suku bunga kebijakan. Perry pun memprediksi ketidakpastian pasar keuangan global akan berlanjut dan mendorong pergeseran penempatan dana global ke aset yang dianggap aman. Misalnya obligasi pemerintah AS dan Jepang, serta komoditas emas.

Dalam menanggapi dinamika ekonomi global tersebut BI menjaga arus masuk modal asing sebagai penopang stabilitas eksternal. Perry menyatakan bahwa BI mengasumsikan The Fed juga akan kembali menurunkan suku bunganya sehingga meyakinkan BI ikut melonggarkan kembali suku bunganya.

“Kalau terjadi perlambatan atau prolong trade war, pertumbuhan ekonomi global turun ekonomi AS menurun, maka dari bacaan kami Fed Fund Rate bisa turun lagi tahun ini setelah Juli, dua atau tiga kali. Tahun depan bisa sekali bisa dua kali,” paparnya.

Terkait dengan devaluasi yuan yang sempat terjadi, Perry berkomentar bahwa itu terjadi sebagai reaksi China sembari melakukan perundingan dengan AS. Dia pun mengantisipasi dampak perang dagang terhadap China sebagai rekan dagang Indonesia adalah dengan mengandalkan kebijakan moneter, serta kebijakan fiskal.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
suku bunga acuan

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top