Bank Indonesia: Inversi Kurva Yield Belum Indikasikan Resesi AS

Yang terjadi sekarang ini bukanlah pengetatan likuiditas (shortage liquidity) secara global, yang mana disebabkan oleh turunnya produksi.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 03 September 2019  |  10:25 WIB
Bank Indonesia: Inversi Kurva Yield Belum Indikasikan Resesi AS
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (tengah) berbincang dengan Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti (kedua kanan), Deputi Gubernur Rosmaya Hadi (kanan), Deputi Gubernur Erwin Rijanto (kedua kiri) dan Deputi Gubernur Sugeng saat acara jumpa pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia di Jakarta

Bisnis.com, JAKARTA—Bank Indonesia melihat posisi kurva yield yang terinversi (inverted curve yield) di Amerika Serikat saat ini belum dapat dipastikan sebagai indikator resesi.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo menjelaskan, posisi likuiditas dunia pada saat ini telah jauh berbeda dibandingkan dengan saat resesi global terakhir pada 2008 yang juga ditandai dengan adanya inversi kurva yield.

“Kalau BI tidak melihat ini sebagai resesi, bahwa yang terjadi adalah perlambatan ekonomi global. Ini sebagai suatu kontraksi ekonomi global,” katanya saat berkunjung ke Bisnis Indonesia, Jakarta, Senin (3/9/2019).

Dirinya menjelaskan, saat ini memang ada dua pendapat yang muncul di pasar.

Pertama, pendapat yang mengingatkan bahwa resesi akan terjadi karena secara historis ditandai oleh inversi kurva yield selama dua kuartal berturut-turut. Kondisi saat ini memang sudah masuk ke dalam kriteria tersebut.

Namun demikian, muncul pendapat kedua, yang menyampaikan bahwa kondisi saat ini jauh berbeda dibandingkan dengan resesi global terakhir pada 2008.

Dody menjelaskan, saat ini likuiditas di dunia masih solid yang berasal dari pelonggaran kuantitatif (quantitative easing) bank sentral utama dunia, setelah Lehman Brothers runtuh.

Akan tetapi, pada tahun ini muncul banyak ketidakpastian yang membuat investor melakukan flight-to-quality yaitu memindahkan asetnya dari emerging market yang berisiko, termasuk Indonesia, ke instrumen yang lebih aman seperti obligasi US Treasury.

“Pembeliannya [UST] menjadi banyak, membentuk demand yang besar. Kemudian harganya menjadi naik. Harga yang naik itu tercermin dari yield yang turun,” jelas Dody.

Dengan demikian, dirinya menilai, yang terjadi sekarang ini bukanlah pengetatan likuiditas (shortage liquidity) secara global, yang mana disebabkan oleh turunnya produksi.

Saat ini memang produksi sedang melemah akibat sentimen perang dagang AS—China, namun masih ada opsi relokasi produksi ke negara lain.

“Artinya, yang tadinya produksi akan drop tajam kalau misalnya putus hubungan AS—China, sekarang akan ter-cover sekian persen dari relokasi. Produksi mungkin diperkirakan naik. Sekarang, kan siapa yang diuntungkan dari relokasi?” ujar Dody.

Hans Kwee, Direktur PT Anugerah Mega Investama, sebelumnya mengatakan bahwa pekan lalu di pasar muncul kekhawatiran inversi kurva yield obligasi AS.

Adapun, spread yield obligasi US Treasury bertenor 10 tahun dengan yield US Treasury bertenor 2 tahun menjauh 5 bps yakni 1,476% dengan 1,526%. Posisi tersebut merupakan terendah sejak 2007.

Kurva terbalik juga terjadi pada yield obligasi bertenor 3 bulan dengan obligasi bertenor 30 tahun yakni 1,955%.

Yield kurva terbalik atau inverted yield curve terjadi ketika yield obligasi tenor jangka pendek lebih tinggi ketimbang obligasi tenor panjang.

“Sejarah mencatat awal resisi Amerika selalu di tandai dengan terjadinya kurva terbalik. Ancaman perlambatan ekonomi global dan resesi di AS tentu mempengaruhi pergerakan harga saham,” kata Hans.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top