Laporan Allianz : Asia Alami Paradoks Perilaku Menabung

Meski penduduk di Asia lebih giat menabung, tapi mereka masih enggan memanfaatkan produk yang memberikan perlindungan paling efektif untuk masa tua.
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 23 September 2019  |  18:30 WIB
Laporan Allianz : Asia Alami Paradoks Perilaku Menabung
Karyawan menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Senin (1/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Aset finansial bruto rumah tangga Asia menyusut 0,9 persen pada 2018, sekaligus menjadi penurunan pertama sejak krisis 2008.

Allianz Global Wealth Report 2019 (Laporan Kekayaan Global Allianz) yang diterima Bisnis, Senin (23/9/2019), menyatakan kondisi ini dipicu oleh anjloknya bidang sekuritas, terutama ekuitas dan dana investasi, hingga 14 persen.

Di sisi lain, deposito bank serta asuransi dan tabungan pensiun masih tumbuh, masing-masing sebesar 8,7 persen dan 8,2 persen.

Laporan itu menuturkan ada satu tren yang muncul dengan jelas jika struktur portofolio tersebut dianalisis. Tren yang dimaksud adalah seiring dengan makin kompleksnya pasar finansial Asia, maka jumlah aset yang berada dalam bentuk simpanan bank mengalami penurunan signifikan, hingga 46,4 persen pada akhir 2018. Angka ini 16 persen di bawah level pada awal abad ini.
 
Sejalan dengan hal ini, porsi sekuritas naik dari 20 persen menjadi 36,2 persen, seiring makin banyaknya rumah tangga yang menginvestasikan tabungan mereka di pasar modal. Namun, porsi asuransi dan tabungan pensiun hanya bernilai 16 persen, yaitu separuh level global.

Senior Economist Allianz Group Michaela Grimm menyebutkan kondisi tersebut merupakan paradoks dalam perilaku menabung.
 
"Penduduk negara-negara dan wilayah Asia menua dengan cepat dan banyak orang lebih giat menabung karena skema tabungan pensiun masyarakat di kebanyakan negara dan wilayah itu belum cukup matang atau hanya menyediakan dana pensiun untuk kebutuhan dasar masa tua," paparnya.

Namun, lanjut Grimm, mereka tampak enggan memanfaatkan produk-produk yang menawarkan perlindungan yang paling efektif untuk masa tua, yaitu asuransi jiwa dan anuitas. Untuk itu, sambungnya, pemerintah dan industri mesti mendorong upaya menawarkan solusi menarik di bidang ini.

Hal ini juga disebut berfungsi sebagai inisiatif untuk meningkatkan literasi dan aksesibilitas finansial.

Secara khusus, laporan tersebut mengungkapkan aset finansial neto di Indonesia hanya mengalami kenaikan sebesar 2,7 persen pada 2018. Hal ini merupakan akibat dari perlambatan aset dan percepatan pertumbuhan utang.
 
Aset finansial neto per kapita Indonesia tercatat sebesar 650 euro. Indonesia pun naik satu tingkat ke posisi 51 di urutan kekayaan negara atau negara dengan aset finansial per kapita terbesar. 
 
Di peringkat teratas, AS kembali mengambil alih posisi Swiss, setidaknya berkat menguatnya nilai dolar. Sementara itu, Singapura naik ke peringkat 3, dan untuk pertama kalinya menjadi negara terkaya di Asia.
 
“Melihat perubahan dalam daftar peringkat tersebut sejak awal abad ini, secara jangka panjang, kebangkitan Asia pun tak diragukan lagi. Singapura (yang naik 13 posisi) sudah pasti menjadi salah satu negaranya, diikuti Taiwan (yang naik 10 posisi), serta dengan mengabaikan kemunduran tahun lalu, China (naik 6 posisi) dan Korea Selatan (naik 5 posisi). Sebaliknya, prestasi Indonesia layaknya negara-negara Eropa, turun 4 peringkat,” tulis laporan itu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tabungan, EKONOMI ASIA

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top