Ekonomi Lesu, Penyaluran Kredit Valas Melambat

Kondisi perekonomian global yang masih diwarnai perang dagang membuat penyaluran kredit denominasi valuta asing (valas) melambat hingga akhir semester I/2019.
Lalu Rahadian
Lalu Rahadian - Bisnis.com 23 September 2019  |  18:54 WIB
Ekonomi Lesu, Penyaluran Kredit Valas Melambat
Seorang pembeli menghitung uang Dolar Amerika Serikat yang ditukarnya di gerai penukaran valuta asing, Jakarta, Senin (15/7/2019). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA — Kondisi perekonomian global yang masih diwarnai perang dagang membuat penyaluran kredit denominasi valuta asing (valas) melambat hingga akhir semester I/2019.

Berdasarkan Statistik Perbankan Indonesia yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga akhir Juni 2019 nilai kredit valas yang sudah disalurkan tumbuh 6,62% secara year-on-year (yoy) menjadi Rp801,55 triliun. Meski meningkat, pertambahan nilai kredit valas per akhir Juni 2019 tidak sebesar yang terjadi sebelumnya.

Pada akhir semester I/2018 kredit valas yang disalurkan bank tumbuh 16,45% yoy. Setahun sebelumnya, penyaluran pembiayaan valas juga tumbuh 8,74% yoy menjadi Rp645,51 triliun.

Perlambatan kenaikan kredit valas pada semester I/2019 membuat penyaluran pembiayaan secara umum melambat. Sebagai catatan, pembiayaan dalam bentuk rupiah pada periode yang sama tumbuh 10,51% yoy menjadi Rp4.666 triliun.

Kenaikan kredit rupiah itu tak mampu membendung perlambatan pembiayaan yang tumbuh 9,91% yoy menjadi Rp5.467 triliun hingga akhir Juni 2019. Pertumbuhan ini lebih rendah daripada kenaikan kredit secara umum per akhir semester I/2018 sebesar 10,75%.

Menurut Ekonom Bank Central Asia (BCA) David E. Sumual, penyaluran kredit valas masih berpotensi naik jika perang dagang antara Amerika Serikat dan China mereda. Selama perang dagang dan ketidakpastian perdagangan global belum mereda, maka kredit valas berpotensi terus tertekan.

“Sejauh ini kuncinya masih menunggu bagaimana perkembangan terakhir negosiasi dagang Amerika dan China. Ini kan [negosiasi Amerika dan China] akan dimulai lagi Oktober, kalau ada perkembangan positif saya pikir dampaknya akan positif ke kredit valas,” ujar David kepada Bisnis, Senin (23/9/2019).

David menjelaskan, selama ini umumnya bank menyalurkan kredit valas ke perusahaan yang memiliki pendapatan nonrupiah. Korporasi yang berpendapatan rupiah berpotensi mendapat kucuran pembiayaan valas, jika kondisi keuangan perusahaan terkait solid.

Menurut David, selama ini penyaluran pembiayaan valas masih ditopang oleh perusahaan yang bergerak di bidang komoditas. Penurunan harga sejumlah komoditas yang disebabkan memburuknya kondisi perdagangan internasional membuat korporasi di bidang ini tak bisa banyak mengajukan kredit valas.

“Kredit ini kan umumnya diberikan bagi pembiayaan yang diperlukan untuk impor barang, bahan baku, atau misalnya proyek jangka panjang yang membutuhkan likuiditas valas. Sejauh ini kan yang berpendapatan valas juga mungkin kebanyakan di Indonesia masih dari komoditas, sedangkan sampai sekarang komoditas masih cenderung lemah harganya terpengaruh perkembangan ekonomi global yang melambat akibat perang dagang,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kredit valas

Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top