Pemegang Saham Bank Oke Restui Penerbitan Saham Baru

Wakil Direktur Utama Bank Oke Hendra Lie mengatakan bahwa APRO Financial Co. Ltd. menjadi pembeli siaga dalam penerbitan saham tersebut. Pemegang saham lain belum diketahui akan mengambil haknya atau tidak.
Muhammad Khadafi
Muhammad Khadafi - Bisnis.com 09 Oktober 2019  |  04:01 WIB
Pemegang Saham Bank Oke Restui Penerbitan Saham Baru
Bank Oke

Bisnis.com, JAKARTA – Pemegang saham PT Bank Oke Indonesia Tbk. menyetujui penerbitan 5 miliar saham baru pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa, Senin (7/10/2019). Penawaran umum terbatas (PUT) dengan hak efek memesan terlebih dahulu (HMETD) tersebut mengincar tambahan modal senilai Rp500 miliar.

Wakil Direktur Utama Bank Oke Hendra Lie mengatakan bahwa APRO Financial Co. Ltd. menjadi pembeli siaga dalam penerbitan saham tersebut. Pemegang saham lain belum diketahui akan mengambil haknya atau tidak.

Secara detail rencana penerbitan saham baru akan dilaporkan melalui prospektus perseroan. “Nanti hari Kamis [10/10/2019] akan publish,” katanya kepada Bisnis, Selasa (8/10/2019).

Hendra menjelaskan bahwa dana dari HMETD akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan untuk ekspansi usaha. Dengan demikian dapat meningkatkan daya saing dan pendapatan perusahaan.

Seperti diketahui, hasil peleburan Bank Oke dan Bank Dinar tersebut mempunyai keinginan untuk meningkatkan permodalan menjadi lebih dari Rp5 triliun agar menjadi bank umum kelompok usaha (BUKU) III. Saat ini hasil penggabungan masih tergolong sebagai BUKU II, atau bank dengan modal inti Rp1 triliun hingga Rp5 triliun.

Proses merger Bank Dinar dan Bank Oke telah berlangsung sejak tahun lalu. Apro yang sebelumnya memiliki 99,99% saham Bank Oke mengambil alih 77,38% saham Bank Dinar dengan nilai Rp691 miliar.

Secara resmi bank hasil penggabungan menggunakan nama Bank Oke, tetapi memakai kode saham Bank Dinar. Per 13 Agustus 2019, izin usaha Bank Dinar sendiri telah beralih kepada Bank Oke.

Hendra mengatakan bahwa usai peleburan usaha, bank siap menggejot kinerja, karena itu perlu dukungan permodalan. Bank Oke menargetkan menutup akhir tahun dengan aset senilai Rp4,8 triliun, atau bertambah sekitar Rp400 miliar. Per Juni 2019, aset Bank Dinar dan Bank Oke, masing-masing sebesar Rp2,4 triliun dan Rp2 triliun.

Sementara itu, akan ada kredit baru sekitar Rp800 miliar. Sebelumnya kredit hasil penggabungan kedua bank senilai Rp3,2 triliun.

Dari segi dana pihak ketiga (DPK), bank optimistis dapat menghimpun Rp2,8 triliun. Angka tersebut bertambah sekitar Rp800 miliar dari hasil peleburan dana nasabah kedua bank.

Satu strategi yang menjadi kunci adalah implementasi teknologi. Bank tengah menyiapkan internet banking dan mobile banking. Keduanya diharapkan mampu meningkatkan layanan dan kemudahan bagi nasabah, sehingga berdampak pada kinerja perusahaan.

Adapun berdasarkan keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia, per 7 Oktober 2019, APRO merupakan pemegang saham pengendali Bank Oke dengan kepemilikan 91,33%. Masyarakat dengan kepemilikan saham di bawah 5% sebanyak 6,38%. Sisanya, 2,29% merupakan saham treasury.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perbankan, bank andara

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top