Kredit Dipacu, Likuiditas Terancam Mengetat

Tingkat pengetatan rasio intermediasi (loan to deposit ratio/LDR) pada tahun depan bergantung dengan ekspansi kredit perbankan pada pengujung tahun ini.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 05 November 2019  |  21:15 WIB
Kredit Dipacu, Likuiditas Terancam Mengetat
ilustrasi - www.silverbearcafe.com

Bisnis.com, JAKARTA — Tingkat pengetatan rasio intermediasi (loan to deposit ratio/LDR) pada tahun depan bergantung dengan ekspansi kredit perbankan pada pengujung tahun ini.

Sejauh ini Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memiliki proyeksi LDR pada 2020 di level 100,6% dengan asumsi pertumbuhan kredit 12,1% dan penghimpunan dana pihak ketiga 8,4%. Angka LDR itu lebih tinggi dibandingkan dengan proyeksi akhir tahun ini 96,8%.

Kepala Eksekutif LPS Fauzi Ichsan mengatakan seiring dengan proyeksi suku bunga global pada 12 bulan - 24 bulan ke depan rendah maka tidak ada ancaman suku bunga global yang mengancam likuiditas.

Apalagi bank sentral Amerika Serikat diproyeksi masih akan menurunkan suku bunga acuan 25 basis poin. Begitu pula bank sentral Eropa, China, Jepang yang dinilai masih akan stabil.

"Dengan begitu, karena suku bunga global rendah maka investor tidak akan memarkir dananya dalam bentuk dolar AS. Maka mereka akan memilih negara seperti Indonesia yang dinilai masih menawarkan suku bunga tinggi," katanya saat ditemui di Bursa Efek Indonesia, Senin (5/11/2019).

Fauzi mengemukakan dengan kondisi di atas maka imbal hasil dari obligasi akan rendah dan otomatis likuditas terjaga.

Sisi lain, menurut Fauzi, terkini data LDR juga sudah cukup baik. Level 92% hingga di atas 100% hanya dialami oleh bank umum kelompok usaha (BUKU) III. Sementara BUKU I, II, dan IV sudah di bawah 92%.

Untuk itu, Fauzi mengatakan, proyeksi LDR 2020 dipastikan masih dapat berubah sesuai dengan proyeksi kredit perbankan.

"Intinya dengan likuiditas membaik maka otomatis perbankan bisa menarik dana masyarakat dengan murah tetapi kalau ekspansi kredit tinggi maka LDR juga akan tinggi," ujarnya.

Adapun terkait penurunan suku bunga LPS, Fauzi menambahkan dengan turunnya suku bunga Bank Indonesia (BI) 100 bp ke depan, maka akan membuka ruang LPS yang saat ini baru menurunkan 50 bp.

Prinsipnya, BI akan bergerak secara forward looking dalam menentukan suku bunga acuan sedangkan LPS akan sesuai pasar atau backward looking.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
likuiditas

Editor : Hendri Tri Widi Asworo
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top