Kredit 2020, SCB dan ANZ Pasang Single Digit

Dua bank asing yang masih mencatatkan eksistensinya di Tanah Air kompak memasang target kredit satu digit pada 2020 mendatang. Proyeksi itu diutaran usai memaparkan kinerja kredit tahun ini yang diperkirakan tak bertumbuh.
Maria Elena & Ipak Ayu H.N
Maria Elena & Ipak Ayu H.N - Bisnis.com 08 Desember 2019  |  20:28 WIB
Kredit 2020, SCB dan ANZ Pasang Single Digit
Papan nama Standard Chartered terpasang di depan sebuah gedung, di Jakarta. - Reuters/Darren Whiteside

Bisnis.com, JAKARTA - Dua bank asing yang masih mencatatkan eksistensinya di Tanah Air kompak memasang target kredit satu digit pada 2020 mendatang. Proyeksi itu diutaran usai memaparkan kinerja kredit tahun ini yang diperkirakan tak bertumbuh.

Chief Executive Officer Standar Chartered Bank Indonesia (SCB) Rino Santodiono Donosepoetro mengatakan perseroan mencatatkan kinerja yang stabil hingga kuartal III/2019.

"Total aset [SCB] akan meneruskan tren tiga tahun terakhir untuk terus tumbuh, begitu juga dengan pertumbuhan kredit. Selaras dengan itu, laba operasional juga diharapkan terus meningkat," kata Rino.

Pada kuartal III/2019, total kredit yang disalurkan bank mencapai Rp25,41 triliun atau turun dari eksposur kredit periode yang sama 2018 Rp31 triliun. Perseroan pun menargetkan kredit dapat tersalurkan sebesar Rp32,7 triliun hingga akhir tahun 2019.

Angka itu sama persis dengan capaian kredit tahun lalu atau Rp32,7 triliun. Sementara jika dibandingkan periode sebelumnya capaian tersebut cukup baik atau tumbuh 16,8 persen dari total kredit 2017 Rp27,9 triliun.

"Ke depan dalam mendorong fungsi intermediasi, kami masih akan fokus pada beberapa sektor yang dinilai unggulan, di antaranya infrastruktur, kosntruksi, transportasi, logistik, dan manufaktur," ujarnya.

Rino menyampaikan perseroan masih cukup optimis fungsi intermediasi pada 2020 akan tumbuh positif, tidak separah yang diperkirakan sebelumnya. Hal tersebut tentunya sejalan dengan proyeksi kondisi ekonomi global dan domestik yang akan membaik.

Secara global, dia menuturkan, akan terjadi delisting sebagai dampak perang dagang dengan kemungkinan adanya deal yang terjadi di tahun depan. Di samping itu, risiko dari Brexit juga dinilai akan menurun.

"Jadi kecenderungan akan lebih positif, tidak akan separah seperti yang diperkirakan sebelumnya. Likuiditas global juga cukup terjaga," jelasnya.

Selain itu, Rino memproyeksikan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) akan stabil, juga likuiditas diperkirakan akan membaik dan sangat terjaga pada 2020.

Rino menilai kunci utama ke depan adalah bagimana bisa menciptakan iklim investasi yang positif dan bagaimana bisa memaksimalkan dana asing, baik dalam bentuk investasi langsung (foreign direct investment/FDI) maupun corporate investment yang masuk ke Indonesia.

"Bagi kami fungsi intermediasi yang kami lakukan juga adalah untuk menjembatani dan mengakselerasi dana baik dalam bentuk capital mapupun FDI yang masuk ke Indonesia," tuturnya.

Sementara itu, PT ANZ Indonesia mencatat kredit yang disalurkan hingga kuartal III/2019 mencapai Rp9,6 triliun. 

Direktur ANZ Indonesia Mujur Tandi mengatakan target kredit perseroan hingga akhir 2019 ini dapat mencapai Rp10,3 triliun. Angka itu terpantau turun jika dibanding realisasi kredit periode 2018 yang mencapai Rp11,4 triliun.

Mujur mengemukakan ke depan fokus utama perseroan masih akan melanjutkan sistem digitalisasi yang diharapkan dapat menurunkan beban operasional perseroan. Saat ini pihaknya mencatat 70 persen sistem sudah digital.

"Kami berharap margin [NIM] terjaga pada level 4,5 persen tahun depan atau turun sedikit dari target tahun ini 4,7 persen. Sementara LDR kami saat ini 120 persen," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perbankan, bank anz indonesia, standard chartered

Editor : Saeno
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top