Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bank Besar Rajin Restrukturisasi, Antisipasi Perlambatan Ekonomi

Bank bermodal kakap gencar merestrukturisasi kredit pada tahun ini. Pengamat menilai hal ini dilakukan sebagai upaya memitigasi risiko seiring dengan perlambatan ekonomi.
Muhammad Khadafi
Muhammad Khadafi - Bisnis.com 10 Desember 2019  |  09:52 WIB
Warga melintasi galeri anjungan tunai mandiri (ATM) di Kebayoran Lama, Jakarta, Senin (5/8/2019). - ANTARA/Aditya Pradana Putra.
Warga melintasi galeri anjungan tunai mandiri (ATM) di Kebayoran Lama, Jakarta, Senin (5/8/2019). - ANTARA/Aditya Pradana Putra.

Bisnis.com, JAKARTA - Bank bermodal kakap gencar merestrukturisasi kredit pada tahun ini. Pengamat menilai hal ini dilakukan sebagai upaya memitigasi risiko seiring dengan perlambatan ekonomi.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah mengatakan bahwa risiko kredit naik seiring dengan melambatnya permintaan kredit dan kondisi ekonomi yang menantang.

Tekanan kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) yang tahun ini meningkat harus diatasi secepat mungkin sebelum mulai menggerus permodalan.

“Salah satu cara mengatasi permasalahan NPL adalah degann melakukan restrukturisasi. Kalau upaya ini bisa dilakukan dengan baik maka NPL akan turun,” katanya kepada Bisnis, Senin (9/12/2019).

Piter melanjutkan bahwa restrukturisasi kredit merupakan strategi bank untuk memperbaiki kualitas kredit. Langkah ini juga lazim dilakukan bank sebagai upaya preventif kredit berstatus lancar dan dalam perhatian khusus (DPK) turun kelas menjadi NPL.

“Artinya restrukturisasi kredil lancar dan DPK ini sekaligus juga menguntungkan bank karena menurunkan risiko kegagalan kredit pada masa yang akan datang,” jelas Piter.

Adapun berdasarkan laporan interim bank umum bermodal inti lebih dari Rp30 triliun, restrukturisasi kredit per September 2019 sudah lebih tinggi dibandingkan dengan posisi Desember 2018.Tercatat, hanya PT Bank CIMB Niaga Tbk. yang membukukan nilai restrukturisasi kredit kuartal III/2019 lebih rendah dibandingkan tutup buku 2018.

Berdasarkan presentasi perusahaan, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. membukukan kenaikan restrukturisasi kredit sebesar 6,1% secara tahunan (year-on-year/yoy). Sedikit menguat dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, 6,0% yoy.

Dalam laporan yang sama, BNI juga melaporkan kenaikan komposisi kredit DPK. Komposisi kredit DPK sebesar 42,4% terhadap nilai restrukturisasi kredit per kuartal III/2019, sedangkan periode yang sama tahun lalu 37,8%.

Ada tiga korporasi yang menyumbang restrukturisasi paling besar sepanjang tahun ini. Pertama, perusahaan yang bergerak pada bidang transportasi laut di Jakarta yang tengah bermasalah dengan penurunan industri minyak berkontribusi Rp319 miliar.

Selanjutnya manufatur makan dan minum di Jawa Barat menyumbang Rp202 miiar karena terkendala kompetisi industri. Terakhir, manufaktur bahan peledak di Kalimantan Timur yang bermasalah dengan likuiditas memberikan sumbangsih Rp150 miliar.

BNI terkait restrukturisasi kredit, secara umum memiliki dua strategi, yakni memperbaiki kualitas kredit berdasarkan kemampuan debitur dan membantu debitur mencari investor strategis. Tercatat strategi restrukturisasi tahun ini telah membawa satu debitur manufaktur memperbaiki kualitas aset dari berstatus NPL menjadi lancar. 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

npl restrukturisasi utang
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top