Kredit Usaha Kecil Menciut, Pelemahan Diyakini Sementara

Menjelang tutup buku 2019, sangat terllihat adanya penurunan produktivitas dari pelaku UMKM. Kredit modal kerja tumbuh melambat per November 2019, dibandingkan dengan realisasi kuartal pertama hingga ketiga.
Muhammad Khadafi
Muhammad Khadafi - Bisnis.com 15 Januari 2020  |  10:51 WIB
Kredit Usaha Kecil Menciut, Pelemahan Diyakini Sementara
Seorang perajin menyelesaikan pembuatan wayang di Galeri Wayang Ruhiyat, Bandung, Jawa Barat, Selasa (31/12/2019). - ANTARA /Raisan Al Farisi

Bisnis.com, JAKARTA - Pengamat menilai perlambatan pertumbuhan kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berpotensi tidak akan berlanjut pada tahun ini. Perbaikan harga komoditas akan mendorong daya beli yang pada akhirnya meningkatkan kebutuhan barang modal pelaku usaha.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah mengatakan UMKM sangat bergantung pada daya beli masyarakat. “Produktivitas pelaku UMKM itu akan langsung terganggu kalau daya beli lemah,” katanya kepada Bisnis, Senin (14/1/2020).

Daya beli masyarakat tersebut, lanjut Piter, erat kaitannya dengan harga komoditas. Perbaikan harga komoditas akan memberikan ruang bagi para petani untuk untuk meningkatkan konsumsi.

Apabila melihat data permintaan kredit, para pelaku UMKM telah bersiap meningkatkan produktivitas tahun ini. Hal itu tercermin dari kredit investasi yang pada tahun lalu tumbuh berakselerasi.

Krediy investasi lazimnya digunakan para pelaku usaha untuk memperbaiki kapasitas produksi. “Dengan kapasitas yang lebih baik karena sudah investasi, kalau pasar siap menyerap, permintaan kredit modal kerja ini akan lompat,” jelasnya.

Menjelang tutup buku 2019, sangat terllihat adanya penurunan produktivitas dari pelaku UMKM. Kredit modal kerja tumbuh melambat per November 2019, dibandingkan dengan realisasi kuartal pertama hingga ketiga.

Adapun pembiayaan kepada sektor UMKM telah lama menjadi perhatian pemerintah. Bank Indonesia memiliki aturan yang mewajibkan perbankan memiliki portofolio pembiayaan UMKM sebesar 20% pada 2018.

Sementara itu, berdasarkan data Bank Indonesia, per November 2019, industri perbankan mencatat kredit UMKM tumbuh 9,2% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp1.044,8 triliun.

Realisasi pertumbuhan menjelang tutup buku tersebut melambat signifikan dibandingkan dengan capaian tiga kuartal sebelumnya. Sepanjang triwulan pertama hingga ketiga 2019, kredit UMKM, secara berurutan naik 11,4% yoy, 11,6% yoy, dan 12,3% yoy.

Perlambatan kredit UMKM utamanya terjadi pada skala usaha menengah, di mana per November 2019 hanya tumbuh 6,0% yoy. Padahal kuartal III/2019 masih membukukan pertumbuhan dua digit, atau 10,7% yoy.

Pada periode yang sama, kredit usaha mikro dan kecil masih membukukan pertumbuhan dua digit, atau masing-masing, 12,4% yoy dan 11,2% yoy. Namun kedua segmen ini juga membukukan perlambatan dibandingkan dengan kuartal-kuartal sebelumnya.

Mengutip data BI, berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi mencatat perlambatan paling signifikan. Pertumbuhan tahunan per November terpaut jauh dengan capaian kuartal III, atau dari 10,0% yoy menjadi 5,6% yoy.

Kontras, kredit terkait kegiatan investasi justru menguat. Per November 2019, kredit UMKM bertenor panjang ini naik 20,1% yoy atau merupakan pertumbuhan tertinggi selama 2 tahun terakhir.

Laju pertumbuhan kredit investasi tersebut tidak cukup kuat memberikan akselerasi terhadap pertumbuhan portofolio pembiayaan UMKM. Pasalnya jenis kredit tersebut, secara komposisi hanya menyumbang 26,9%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kredit ukm

Editor : Hendri Tri Widi Asworo
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top