Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Analis Sesalkan Keputusan BI Tahan Bunga Acuan Tetap 4,5 Persen

Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menahan suku bunga acuannya atau BI 7-Day Reserve Repo Rate pada level 4,5 persen disesalkan oleh kalangan analis.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 24 Mei 2020  |  10:36 WIB
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan melalui streaming di Jakarta, Kamis (9/4 - 2020). Dok. Bank Indonesia
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan melalui streaming di Jakarta, Kamis (9/4 - 2020). Dok. Bank Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA – Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menahan suku bunga acuannya atau BI 7-Day Reserve Repo Rate pada level 4,5 persen disesalkan oleh kalangan analis.

Mirae Asset Sekuritas meyakini langkah yang diambil oleh Bank Indonesia untuk tidak memangkas suku bunga memiliki risiko terhadap mata uang rupiah yang kemungkinan akan tertekan dalam jangka pendek.

Analis makroekonomi Anthony Kevin mengatakan keputusan tersebut berbeda dari konsensus Bloomberg dan proyeksi sekuritas, yakni turun 25 basis poin ke level 4,25 persen.

Meskipun pasar keuangan menguat beberapa hari belakangan, dia percaya suku bunga acuan oleh BI adalah langkah yang sangat dibutuhkan. Secara historis, dana asing umumnya mengalir keluar dari pasar ekuitas pada bulan Mei.

Dalam 15 tahun terakhir, investor asing membukukan penjualan bersih dengan rata-rata aliran dana asing sebesar Rp5,4 triliun. Sesuai dengan tekanan musiman di pasar ekuitas pada bulan Mei, secara historis, rupiah akan terdepresiasi terhadap dolar Amerika Serikat.

“Dari sudut pandang data, beberapa rilis data makroekonomi utama yang menyoroti keparahan dampak Covid-19 terhadap perekonomian Indonesia yang seharusnya memaksa bank sentral untuk meningkatkan pengawasan dengan memberikan penurunan suku bunga,” tulis Anthony dalam rilis risetnya, yang dikutip Bisnis, Minggu (24/5/2020).

Untuk diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal satu tahun 2020 hanya mencapai 2,97 persen, jauh lebih rendah dari konsensus dan proyeksi analis masing-masing sebesar 4 persen dan 4,4 persen secara tahunan.

“Angka tersebut menandai pertumbuhan PDB terburuk sejak kuartal keempat tahun 2001. Angka tersebut juga dibawah proyeksi pemerintah; sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan pertumbuhan PDB mencapai 4,5 persen - 4,7 persen, sementara Bank Indonesia memperkirakan berada pada 4,7 persen year-on-year,” jelasnya.

Menurut sekuritas, penurunan suku bunga 25 basis poin oleh BI dapat dibenarkan secara fundamental. Selain fakta bahwa Indonesia telah berada di belakang negara-negara berkembang lainnya yang lebih aktif dalam mengurangi tingkat kebijakan masing-masing, sekuritas memperkirakan inflasi akan turun di bawah 3 persen pada tahun 2020.

Hal ini terutama dikarenakan lemahnya permintaan pada bulan April 2020 dan inflasi tahunan yang hanya sekitar 2,67 persen. Dalam tiga bulan pertama tahun 2020, BPS mencatat inflasi kumulatif 0,76 persen, lebih rendah dari rata-rata 0,86 persen sepanjang 2011 hingga 2019.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank indonesia suku bunga acuan
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

Foto loadmore

BisnisRegional

To top