Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Efek Pandemi, Jumlah Debitur Berisiko Tinggi Kian Meningkat di Multifinance dan BPR

Direktur Utama Pefindo Biro Kredit Yohanes Arts Abimanyu mengatakan pandemi Covid-19 mengakibatkan berkurangnya kemampuan sebagian debitur untuk membayar cicilan. Hal ini tercermin dari perubahan komposisi risk grade pada data kredit yang dikelola.
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 04 Agustus 2020  |  14:58 WIB
Karyawan berada di dekat logo Otoritas Jasa Keuangan di Jakarta, Jumat (17/1/2020). Bisnis - Abdullah Azzam
Karyawan berada di dekat logo Otoritas Jasa Keuangan di Jakarta, Jumat (17/1/2020). Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - PT Pefindo Biro Kredit mengamati terjadinya pergeseran profil risiko kredit akibat pandemi Covid-19 pada industri jasa keuangan perbankan dan nonbank.

Direktur Utama Pefindo Biro Kredit Yohanes Arts Abimanyu mengatakan pandemi Covid-19 mengakibatkan berkurangnya kemampuan sebagian debitur untuk membayar cicilan. Hal ini tercermin dari perubahan komposisi risk grade pada data kredit yang dikelola.

Pefindo Biro Kredit membagi tingkat risiko debitur dalam lima kategori yaitu very low, low, average, high dan very high. Perubahan sebaran tingkat risiko ditandai dengan peningkatan debitur dengan kategori high risk dan very high risk, serta penurunan persentase very low, low, dan average.

Total persentase risk grade high dan very high masih rata-rata di atas 40% dan terus meningkat terutama sejak masa pandemi Covid-19 mulai menyebar di Indonesia. Pada Maret 2020, total persentase risk grade kedua kategori ini tercatat sebesar 42,4%. Angkanya meningkat jadi 43,6% pada April, dan bulan berikutnya menjadi 45,5%. Padahal, akhir tahun lalu angkanya masih ada di level 41,2%.

Total persentase risk grade kategori high dan very high risk pada Mei 2020 tertinggi ada pada industri perusahaan pembiayaan yaitu sebesar 55,1%. Sementara itu pada kelompok bank perkreditan rakyat (BPR), total persentase tingkat risiko dua kategori tersebut ada di level 45,2%, dan kelompok Bank Umum dan BPD masih lebih rendah yakni sebesar 32,7%.

"Pandemi memengaruhi perilaku debitur. Mereka mengalami kendala dalam hal pembayaran sehingga memengaruhi profil risiko kredit mereka, dari sebelumnya low menjadi high dan very high," katanya dalam konferensi pers, Selasa (4/8/2020).

Yohanes memperkirakan tren yang sama masih akan berlanjut hingga akhir tahun. Sebab, pandemi yang masih terjadi berdampak pada individu, salah satunya dari sisi pendapatan.

Dia berharap pelonggaran PSBB membuat masyarakat kembali beraktivitas dan memperoleh pendapatan. Dengan demikian, debitur dapat melunasi kewajibannya.

"Tetapi kalau pandemi masih berlangsung terus dan ekonomi tidak bergerak naik, profil risiko kredit masih berpotensi di posisi tersebut," imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan kredit perusahaan pembiayaan
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top