Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Penjualan Motor Merangkak Naik, Multifinance Harap Ketiban Berkah

Berdasarkan data terbaru Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), penjualan wholesales atau distribusi pabrik ke dealer sepeda motor secara domestik per Juli 2020 mencapai 292.205 unit.
Sepeda motor baru siap didistribusikan. /Bisnis.com
Sepeda motor baru siap didistribusikan. /Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan pembiayaan (multifinance) yang bertumpu pada pembiayaan kendaraan, terutama yang fokus pada kredit kendaraan roda dua, tampak mulai bisa bernafas lega.

Hal ini menilik data penjualan kendaraan roda dua yang mulai merangkak naik pada semester II/2020. Optimisme dan semangat multifinance pun bangkit, dalam memacu pembiayaan sepeda motor di era new normal.

Berdasarkan data terbaru Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), penjualan wholesales atau distribusi pabrik ke dealer sepeda motor secara domestik per Juli 2020 mencapai 292.205 unit.

Angka ini tercatat tumbuh, setelah penjualan motor sempat turun drastis dari 561.739 unit pada Maret 2020 ke angka 123.782 unit pada April 2020 dan mencapai titik terendah pada Mei 2020 di angka 21.851 unit. Mengakhiri semester I/2020 atau Juni 2020, penjualan merangkak ke angka 167.992 unit, dan akhirnya kembali naik pada Juli 2020, sehingga total penjualan motor domestik selama periode 2020 sudah mencapai 2.178.694 unit.

Data penyaluran pembiayaan sepeda motor dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun mengungkap hal serupa. Kendati OJK belum merilis data per Juli 2020, pertumbuhan sudah mulai tampak dari tren Juni 2020. Sebelumnya, tren penurunan terus terjadi sejak Februari 2020 akibat Covid-19 dan mencapai titik terendah di angka Rp75,09 triliun pada Mei 2020. Kemudian, pembiayaan motor baru pada Juni 2020 naik 1,39 persen (month-to-month/mtm) ke angka Rp76,14 triliun.

Direktur Keuangan PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk atau WOM Finance Zacharia Susantadiredja mengaku melihat optimisme ini.

"Saat ini WOM menyalurkan pembiayaan multiguna barang, yaitu motor baru dan motor bekas dan multiguna jasa [dengan jaminan surat kendaraan] yaitu Motorku dan Mobilku. Tentu kita berharap adanya kenaikan permintaan atas sektor otomotif, akan mendorong pertumbuhan bisnis di perusahaan pembiayaan juga," jelasnya kepada Bisnis, Selasa (8/9/2020).

Menurut Zacharia, fokus perusahaan pembiayaan untuk menghadapi fenomena ini, yaitu mengolah strategi dalam mencari keseimbangan antara potensi pembiayaan baru dengan sumber pendanaan yang didapat. Hal ini demi memperbaiki kinerja perusahaan di semester II/2020, setelah pada paruh pertama 2020 kinerja keuangan perusahaan dengan kode emiten WOMF ini terkoreksi akibat pandemi Covid-19.

Dalam laporan keuangan tengah tahunan WOMF, laba sebelum beban pajak perseroan per Juni 2020 sebesar Rp76,25 miliar, tercatat turun dari posisi Juni 2019 sebesar Rp 103,42 miliar. Penurunan beban dari Rp1,14 triliun pada semester I/2019 menjadi Rp1,05 triliun pada semester I/2020, tak bisa menutup penurunan pendapatan dari Rp1,25 triliun pada 2019 menjadi Rp1,12 triliun per Juni 2020.

"Fokus kita sekarang menjalankan manajemen resiko dengan prinsip kehati-hatian untuk mengelola portofolio yang sudah ada dan untuk proses inisiasi pembiayaan yang baru. Lalu disiplin dalam mengelola seluruh pengeluaran biaya, dan tetap menjaga protokol kesehatan dalam seluruh kegiatan operasional perusahaan," tambahnya.

Hal senada diungkap Direktur Utama PT Federal International Finance Group (FIF Group) Margono Tanuwijaya yang masih optimistis permintaan kredit roda dua bakal terus tumbuh di semester II/2020, walaupun secara perlahan. Pasalnya, FIF selaku anak usaha agen tunggal pemegang merek (ATPM) Astra International ini, telah membuktikan sendiri bahwa tren pembiayaan roda dua memang meningkat.

"Penyaluran FIF sebelum pandemi rata-rata Rp3,3 triliun tiap bulan. Mei turun ke Rp1,9 triliun, Juni sudah kembali naik ke Rp2,4 triliun dan akhirnya di bulan Juli sudah melampaui itu," ujar Margono kepada Bisnis.

Menurut Margono, fokus FIF Group sama halnya seperti seluruh multifinance, yakni lebih berhati-hati atau lebih ketat dalam menyalurkan pembiayaan baru, serta terus melakukan penelitian terhadap kualitas kredit debitur demi menekan non-performing financing (NPF).

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno mengungkapkan bahwa optimisme ini perlu dijaga.

Pasalnya, dilihat dari nominal penyaluran, realisasi kredit kendaraan roda dua memang kalah nilainya dengan realisasi kredit roda empat. Namun, secara unit, pembiayaan roda dua lebih besar dan mampu menjadi indikator bahwa daya beli masyarakat mulai bangkit. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Aziz Rahardyan
Editor : Ropesta Sitorus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper