Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Petani Hadapi Kendala Penjualan Pangan, Pembiayaan dan Dukungan jadi Kunci

Marketing Creative Lead PT Crowde Membangun Bangsa Aldy Ramadiansyah menilai bahwa meskipun sektor pertanian tumbuh 16,4% saat pandemi, kondisi para petani justru mengkhawatirkan.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 29 September 2020  |  11:08 WIB
CEO Crowde Yohanes Sugihtononugroho (kanan) bersama Investment Manager Gree Ventures Samir Chaibi (kiri) di Jakarta, Senin (15/10). - Bisnis/N. Nuriman Jayabuana
CEO Crowde Yohanes Sugihtononugroho (kanan) bersama Investment Manager Gree Ventures Samir Chaibi (kiri) di Jakarta, Senin (15/10). - Bisnis/N. Nuriman Jayabuana

Bisnis.com, JAKARTA — Para petani menghadapi sejumlah kendala dalam penjualan hasil tani dan distribusinya, yang berdampak terhadap kesejahteraan mereka. Dukungan fasilitas dan permodalan dapat menjadi salah satu solusi pemecahan masalah tersebut.

Aldy Ramadiansyah, Marketing Creative Lead PT Crowde Membangun Bangsa, sebuah platform P2P lending untuk permodalan petani, menilai bahwa meskipun sektor pertanian tumbuh 16,4% saat pandemi, kondisi para petani justru mengkhawatirkan. Hal tersebut berdasarkan temuan Crowde dalam kunjungan ke sejumlah mitra petani di Sukabumi, Jawa Barat pada 22–23 September 2020.

Menurut Aldy, para petani menghadapi masalah harga pangan yang terus menurun akibat pandemi virus corona. Alhasil, para petani terpaksa harus menjual hasil panennya dengan harga rendah sehingga keuntungan yang diperoleh semakin berkurang.

Terbatasnya akses mobilisasi karena sejumlah kebijakan pemerintah pun membuat petani kesulitan mendistribusikan hasil panen ke daerah-daerah lain, sehingga hanya bisa memasarkannya di pasar lokal. Kondisi tersebut pada akhirnya membuat fluktuasi harga pangan menjadi semakin parah.

Aldy menjelaskan bahwa ketika keuntungan berkurang, petani menjadi semakin sulit untuk memulai budidayanya kembali. Para petani juga mengaku kesulitan membeli obat-obatan untuk penyakit tanaman dengan tepat waktu yang berakibat proses budidaya tidak maksimal.

Selain itu, berbagai kebijakan saat pandemi seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) telah merubah pola konsumsi pangan masyarakat Indonesia. Tutupnya tempat-tempat makan yang menyerap bahan pangan pun akhirnya mengurangi tingkat pembelian hasil produksi tani.

Menurut Aldy, kondisi tersebut berimbas terhadap kesejahteraan para petani. Dalam kondisi sulit, petani yang terus diminta untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat nyatanya berada dalam posisi yang tidak diuntungkan.

“Untuk bisa maju bersama dan mendukung petani, berbagai fasilitas harus diberikan seperti menyediakan koordinator di lapangan, memberikan akses pasar hasil panen, juga memberi modal sarana produksi [saprodi] dan biaya atau upah pekerja”, ujar Aldy pada Senin (28/9/2020) melalui keterangan resmi.

Menurut Aldy, pihaknya menempatkan Farmers Consultant (FC) dan Field Agent (FA) sebagai tim yang bertugas untuk memonitor dan membimbing para petani saat menjalankan budidaya. FC dan FA tersebut akan menampung semua keluhan mitra petani di lokasi proyek usaha tani.

Crowde menilai bahwa dukungan bagi para petani menjadi hal penting dalam kondisi saat ini. Meskipun merupakan perusahaan teknologi finansial, menurut Aldy, dukungan dapat diwujudkan bukan hanya dalam bentuk pembiayaan tetapi juga dukungan langsung di lapangan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pembiayaan petani fintech
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top