Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tekanan Kredit Bermasalah Multifinance Mulai Reda, Ini Pendorongnya

Rasio non-performing financing (NPF) multifinance pada Agustus 2020 berada di angka 5,23 persen, atau turun dari Juli 2020 yang sebesar 5,6 persen.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 29 September 2020  |  19:48 WIB
Multifinance - Istimewa
Multifinance - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Tingkat kredit bermasalah rata-rata perusahaan pembiayaan atau multifinance yang membaik, ditopang permintaan kredit baru dan mulai stabilnya volume piutang pembiayaan.

Sebelumnya, statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan adanya perbaikan tingkat kredit bermasalah perusahaan pembiayaan atau multifinance per Agustus 2020.

Rasio non-performing financing (NPF) terbaru dari 182 multifinance ini menunjukkan angka 5,23 persen, atau turun dari Juli 2020 di angka 5,6 persen.

Penurunan ini merupakan yang pertama kalinya sejak awal pandemi Covid-19 merebak di Indonesia, terutama ketika pembatasan sosial berskala besar (PSBB) marak digelar di beberapa kota besar.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno menjelaskan bahwa sebelumnya, pandemi Covid-19 berpengaruh besar pada permintaan pembiayaan.

Terutama, karena pandemi menghendaki pemberlakuan kebijakan pembatasan sosial, ketahanan finansial masyarakat pun turun, sehingga turut mempengaruhi kinerja non-performing financing (NPF).

"Sekarang [membaik] ini jelas karena sudah ada lagi booking, seiring aktivitas ekonomi masyarakat kembali pulih," ujar Suwandi kepada Bisnis, Selasa (29/9/2020).

Seperti diketahui, rasio NPF merupakan proporsi kualitas aset piutang pembiayaan kategori macet dan diragukan terhadap total piutang pembiayaan. Adapun, kualitas kredit sendiri dibagi menjadi lima kategori, yakni lancar, dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan, dan macet.

Oleh sebab itu, dengan perbaikan kinerja penyaluran pembiayaan, yang sebelumnya ditopang kebijakan pendukung seperti restrukturisasi kredit dan subsidi bunga untuk kredit baru, NPF pun berangsur membaik.

Sekadar informasi, piutang pembiayaan neto per Agustus 2020 sebesar Rp391,9 triliun dengan outstanding (OS) sebelum dikurangi pencadangan Rp417,1 triliun.

Angka ini masih menunjukkan tren penurunan tipis dibandingkan Juli 2020 di angka Rp398,3 triliun dengan OS Rp423,8 triliun.

Ilustrasi tempat penjualan mobil bekas./Antara/Chairul Rohman

PT Mandiri Tunas Finance (MTF) menjadi salah satu miltifinance yang merasakan sendiri pengaruh mulai bangkitnya permintaan pembiayaan baru terhadap perbaikan NPF perusahaan.

Direktur Sales dan Distribusi PT MTF Harjanto Tjitohardjojo mengungkap bahwa tren pembiayaan baru, terutama kredit roda empat baru yang masih menjadi penopang, memang meningkat di bulan Agustus dan September.

Sebagai gambaran, rata-rata pembiayaan mobil MTF sebelum pandemi berkisar di angka Rp2,4 triliun. Ketika pandemi, angka ini turun drastis menjadi hanya di bawah Rp1 triliun.

"Sejak Juli sudah Rp992 miliar, Agustus di atas Rp1,1 triliun. Jadi membaik, tapi belum kembali ke normal," jelas Harjanto kepada Bisnis.

Oleh sebab itu, Harjanto pun berharap apabila keadaan perekonomian nasional berangsur terus membaik, maka kinerja NPF pun bisa terus ditekan.

"NPF membaik dengan restrukturisasi dan collection kembali berjalan normal karena PSBB sudah longgar. Puncak tertinggi NPF kita sendiri sempat menyentuh 3 persen di Juli, tapi di Agustus menurun ke 2 persen. Harapannya di akhir September ini bisa ke 1,6 persen dan prediksi akhir tahun bisa 1,2 persen," tambahnya.

PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFI Finance) merasakan hal serupa menilik kinerja moncer dari piutang pembiayaan pada Agustus 2020.

"BFI sendiri penyaluran pembiayaan baru di Agustus naik 2 kali lipat dibanding Juli 2020, namun nilainya masih di bawah kondisi prapandemi. NPF juga membaik sejalan dengan NPF industri," ungkap Direktur Keuangan BFI Finance Sudjono kepada Bisnis.

Sudjono berharap besar NPF perusahaannya yang berkode emiten BFIN ini, berangsur-angsur membaik ke kondisi normal di kisaran 1 persen. Pasalnya, NPF BFIN sebelumnya sempat menyentuh berada di angka 3,7 persen pada akhir Juni 2020.

"Semoga tren ini bisa berlanjut, karena BFI sendiri sudah mendapatkan penyaluran subsidi bunga dari pemerintah sesuai PMK 84 untuk membantu meringankan bunga konsumen yang terdampak," tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

multifinance OJK kredit bermasalah
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top