Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

BCA Tetap Salurkan Kredit, Kok Pertumbuhan Masih Negatif?

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. Jahja Setiaatmadja mengatakan pertumbuhan tidak saja berkaitan dengan kredit baru yang disalurkan. Namun, juga pengembalian dana dari kredit yang diajukan nasabah.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 27 Oktober 2020  |  20:24 WIB
Pekerja membersihkan dinding kantor Bank Central Asia (BCA) di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (16/6/2020). Bisnis - Paulus Tandi Bone
Pekerja membersihkan dinding kantor Bank Central Asia (BCA) di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (16/6/2020). Bisnis - Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Central Asia Tbk. mengaku tetap menyalurkan kredit baru di tengah pandemi meskipun secara outstanding justru turun 0,6% pada kuartal III/2020 dibandingkan periode sama tahun lalu (year on year/yoy). Per akhir kuartal III/2020, BBCA telah menyalurkan kredit senilai Rp581,9 triliun atau turun 0,6 % (yoy). Penyaluran kredit BCA masih ditopang oleh kredit korprorasi yang tumbuh 8,6% (yoy) menjadi Rp252,0 triliun. 

Hanya saja, kredit komersial dan UMKM tercatat turun 4,9% (yoy) menjadi Rp182,7 triliun. Pada portofolio kredit konsumer, KPR turun 3,1% (yoy) menjadi Rp89,3 triliun dan KKB turun 19,3% (yoy) menjadi Rp38,6 triliun. Saldo outstanding kartu kredit juga turun 18,5% (yoy) menjadi Rp10,9 triliun. Secara total, portofolio kredit konsumer turun 9,4% (yoy) menjadi Rp141,7 triliun.

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. Jahja Setiaatmadja mengatakan pertumbuhan tidak saja berkaitan dengan kredit baru yang disalurkan. Namun, juga pengembalian dana dari kredit yang diajukan nasabah.

Menurutnya, selama pandemi, BCA tetap menyalurkan kredit baru tetapi nilai pengembaliannya jauh lebih besar. Misalnya, dari penyaluran kredit korporasi BCA yang senilai Rp45 triliun, ada nasabah yang melakukan pengembalian kredit senilai Rp30 triliun sehingga pertumbuhan kredit BCA secara net hanya sekitar Rp15 triliun.

Lebih lanjut, Jahja menjelaskan jenis kredit sangat mempengaruhi nilai pengembalian. Seperti misalnya kredit investasi, yang pengembalian dananya dicicil berdasarkan periode tertentu, ada juga kredit modal kerja yang pengembaliannya berfluktuasi sesuai dengan penggunaan kredit. Pada kondisi normal, pertumbuhan kredit baru selalu lebih tinggi dari kredit lama sehingga growth secara total akan positif.

"Dari sisi bank, apakah bank tidak mau melepas kredit, tidak benar sama skeali, bank akan berusaha cari kesempatan apakah nasabah butuh kredit tetapi harus sesuai dengan standar yang dibutuhkan bank. Itu yang sebabkan bank lepaskan kredit tiap bulan tetapi kredit lama berkurang terus," katanya dalam paparan kinerja kuartal III/2020, Senin (26/10/2020).

Sementara itu, kredit korporasi masih bisa tumbuh positif di tengah pandemi karena berkaitan dengan sektor yang terdampak Covid-19. Sektor infrastruktur terutama yang berkaitan dengan proyek pemerintah tetap berjalan. Ada pula sektor korporasi lain yang masih melihat peluang pertumbuhan di tengah pandemi sehingga permintaan kredit baru terus bertumbuh.

Berbeda halnya dengan kredit konsumer maupun UMKM yang rata-rata pengembalian kredit jauh lebih besar dari kredit baru. Bahkan, ada pula kredit yang telah dilakukan akad tetapi belum kunjung ditarik. "Jadi negatif bukan karena tidak berikan kredit tetapi karena yang baru lebih kecil dari yang kembalikan," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bca perbankan kredit
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top