Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Perbankan Belum Ikuti Penurunan Suku Bunga Acuan, BI Didorong Ambil Terobosan

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah menilai hingga akhir tahun nanti, Bank Indonesia masih akan mempertahankan suku bunga acuan yang masih berlaku saat ini.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 18 November 2020  |  19:16 WIB
Karyawan keluar dari pintu salah satu gedung Bank Indonesia di Jakarta, Senin, (20/1/2020).  Bisnis - Abdullah Azzam
Karyawan keluar dari pintu salah satu gedung Bank Indonesia di Jakarta, Senin, (20/1/2020). Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Center of Reforms Economics (CORE) Indonesia menilai otoritas moneter perlu melakukan terobosan mengingat kebijakan penurunan suku bunga acuan yang tidak efektif menurunkan suku bunga kredit.

Adapun, Bank Indonesia (BI) tercatat telah menurunkan bunga acuan sebanyak empat kali selama masa pandemi Covid-19 berlangsung. Terakhir kali, penurunan suku bunga acuan dilakukan BI pada Juli 2020 menjadi 4%. Pada periode berikutnya hingga Oktober 2020, BI memutuskan untuk menahan bunga acuan dengan pertimbangan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah menilai hingga akhir tahun nanti, Bank Indonesia masih akan mempertahankan suku bunga acuan yang masih berlaku saat ini.

Penurunan suku bunga acuan kemungkinan baru akan terjadi pada semester I/2021 dengan besaran penurunan 25 basis poin (bps) sampai dengan 50 bps menjadi 3,5%. Menurutnya, jika tahun depan BI menurunkan bunga acuan hingga 50 bps, maka Indonesia akan memiliki suku bunga terendah sepanjang sejarah.

Hanya saja, perbankan belum mau merespon penurunan suku bunga acuan tersebut. Hal ini pun membuat transmisi penurunan suku bunga acuan BI tidak efektif terhadap penuruan suku bunga kredit.

Piter menilai, kondisi ini tidak hanya terjadi pada periode ini. Contohnya, pada 2016 lalu, BI pertama kali menurunkan bunga acuan secara signifikan dengan besaran 4,5%. Namun, suku bunga kredit pada waktu itu tetap bertahan di atas 10%.

"Penurunan suku bunga kredit sangat lambat bahkan pemerintah upayakan Bank BUMN secara paksa untuk menurunkan bunga, tapi pada akhirnya tetap tidak turun. Di tengah pandemi, BI sudah turunkan suku bunga lebih agresif, tetapi suku bunga kredit tidak beranjak, memang ada penurunan tetapi sangat tersegmentasi. Tidak semua suku bunga kredit turun signfikan," katanya dalam webinar CORE Economic Outlook 2021, Rabu (18/11/2020).

Piter pun menilai semua pihak harus menerima kondisi ini sebagai anomali yang harus segera diselesaikan. Sebagai permulaan, BI dinilai perlu mengakui bahwa kebijakan penurunan suku bunga acuan tidak efektif untuk menurunkan tingkat bunga kredit.

Dengan adanya pengakuan tersebut, baru bisa dilakukan kajian lebih dalam dalam memahami penyebab anomali dan terobosan yang perlu dilakukan.

Lebih lanjut, Piter pun menilai insentif Bank Indonesia yang diberikan kepada perbankan berkaitan erat pada kurang efektifnya penurunan suku bunga kredit.

Pasalnya, jika di luar negeri, bank sentral melakukan penurunan suku bunga, maka perbankan akan berlomba-lomba menurunkan bunga.

"Selama ini BI menilai ini bukan persoalan besar sehingga tidak ada upaya sungguh-sungguh untuk perbaiki transmisi kebijakan menoter.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank indonesia perbankan suku bunga acuan bunga kredit
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top