Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kredit Korporasi Perbankan Menunjukkan Pemulihan

Otoritas Jasa keuangan mencatat kinerja kredit korporasi pada September telah menunjukkan pemulihan bertahap. Kredit korporasi sepanjang tahun berjalan (year-to-date/ytd) tumbuh 4,7 persen.
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 01 November 2021  |  17:32 WIB
Karyawan berada di dekat logo Otoritas Jasa Keuangan di Jakarta, Jumat (17/1/2020). Bisnis - Abdullah Azzam
Karyawan berada di dekat logo Otoritas Jasa Keuangan di Jakarta, Jumat (17/1/2020). Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Perbankan kian kencang menyalurkan kredit ke berbagai sektor usaha seiring dengan membaiknya pandemi Covid-19. Otoritas Jasa Keuangan pun memberikan sinyal kebangkitan dari segmen korporasi.

PT Bank Central Asia Tbk., misalnya, telah mengucurkan pinjaman senilai Rp160 miliar dan US$10 juta dalam berbagai skema fasilitas kepada PT Galva Technologies Tbk.

Langkah itu juga diikuti oleh bank pelat merah, seperti PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. yang mengucurkan pinjaman Rp256,5 miliar pada PT Integrasi Jaringan Ekosistem, anak usaha PT Solusi Sinergi Digital Tbk. 

Hingga kuartal III/2021, BNI telah menyalurkan total kredit senilai Rp569,73 triliun. Dari jumlah itu, kredit korporasi mencapai Rp279,9 triliun, naik 0,25 persen secara tahunan.

Pertumbuhan kredit korporasi juga dicatatkan oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Pada kuartal III/2021, laju kredit perseroan secara konsolidasi mampu tumbuh positif sebesar 16,93 persen year-on-year (yoy) menjadi Rp1.021,6 triliun.

Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi mengatakan segmen wholesale masih menjadi penggerak pertumbuhan kredit dengan kenaikan 7,93 persen yoy atau sebesar Rp533 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh kinerja commercial banking dan corporate banking.

“Sejalan dengan upaya percepatan pemulihan ekonomi nasional yang dilakukan pemerintah, Bank Mandiri berkomitmen untuk bersama-sama mendorong kebangkitan ekonomi di sektor-sektor potensial pada masing-masing wilayah, termasuk UMKM,” ujarnya, baru-baru ini.

Sementara itu, BCA juga mampu mengakselerasi penyaluran kredit ke segmen korporasi. Sampai dengan kuartal III/2021, emiten bank dengan sandi BBCA ini membukukan kredit korporasi senilai Rp251,99 triliun, naik 7,1 persen secara yoy. 

Penyaluran tersebut berfokus pada sektor-sektor, seperti manufaktur, trading, dan business services, transportasi, agrikultur, dan konstruksi. 

Presiden Direktur Bank BCA Jahja Setiaatmadja, dalam paparan kinerja perseroan pekan lalu, menyatakan kredit korporasi memiliki kemampuan untuk pulih lebih baik daripada kredit komersil dan UMKM dari sisi permintaan.

SINYAL KEBANGKITAN 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan kebangkitan kredit korporasi. Sinyal positif tersebut tercermin dalam tiga aspek, mulai dari laju pertumbuhan kredit hingga turunnya rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL).

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyatakan penyaluran kredit perbankan hingga akhir 2021 diperkirakan tumbuh 4 – 5 persen yoy. Pertumbuhan ini tidak hanya didukung oleh sektor UMKM, tetapi juga oleh segmen korporasi. 

“Setelah kami lihat aktivitas ekonomi, UMKM juga tumbuh, ini pasti mata rantainya kepada korporasi akan bangkit,” kata Wimboh dalam konferensi pers virtual Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK), pekan lalu.

Otoritas juga memantau angka agregat secara individual terhadap 200 korporasi besar melalui pemberian kredit. Meski masih minus 4,5 persen jika dibandingkan Maret 2021, kinerja kredit korporasi pada September telah menunjukkan pemulihan bertahap.

Wimboh mengatakan kredit korporasi sepanjang tahun berjalan (year-to-date/ytd) tumbuh 4,7 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi segmen korporasi jauh lebih baik jika dikomparasikan dengan posisi akhir tahun 2020.

Selain itu, total kredit yang direstrukturisasi telah mengalami penurunan dengan angka terakhir berada di Rp738,60 triliun, sedangkan sebelumnya mencapai Rp900 triliun. Tercatat restrukturisasi mencakup UMKM sebanyak 3,3 juta debitur dan non-UMKM 1,27 debitur.

Aspek lainnya adalah kondisi NPL yang kini jauh lebih membaik. OJK mencatat kredit bermasalah turun dari 3,24 persen pada Juni, kini menjadi 3,22 persen per September 2021.

“NPL ini kalau turunnya dalam hitungan kecil dalam rasio, tetapi ini impaknya besar sekali. Jadi, ini adalah fakta bahwa korporasi kita sudah lebih baik,” kata Wimboh.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

OJK kredit korporasi
Editor : Azizah Nur Alfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top