Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BCA Tuntaskan Infrastruktur BI-Fast, Implementasi Secara Bertahap

BCA menuntaskan infrastruktur BI-Fast dan akan memulai implementasi secara bertahap.
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 22 Desember 2021  |  05:00 WIB
Pekerja membersihkan menara BCA di Jakarta, Selasa (12/3/2019). - ANTARA/Sigid Kurniawan
Pekerja membersihkan menara BCA di Jakarta, Selasa (12/3/2019). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) telah menyiapkan infrastruktur dalam proses implementasi Bank Indonesia Fast Payment atau BI-Fast.

Executive Vice President Secretariat & Corporate Communication BCA, Hera F. Haryn, menyatakan bakal memulai implementasi BI-Fast secara bertahap di sejumlah platform. Seperti yang diketahui, BCA merupakan peserta fase pertama dalam uji coba sistem tersebut.

“Sistem BI-Fast akan diimplementasikan di berbagai platform BCA secara bertahap. Mulai dari platform myBCA, disusul dengan platform lainnya seperti KlikBCA, BCA mobile, dan ATM," kata Hera, Senin (21/12/2021).

Bank Indonesia (BI) pada hari ini resmi meluncurkan BI Fast, pembayaran ritel nasional yang menggantikan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI).

Hera mengatakan BI-Fast merupakan salah satu inisiatif dari bank sentral yang ingin membuat sistem pembayaran Indonesia semakin maju, modern dan sesuai dengan perkembangan zaman.

“Dimulai dengan layanan transfer antarbank secara online, BI-Fast tersedia secara 7x24 jam. Tentunya dengan harga yang terjangkau dan lebih murah dari transfer LLG [Lalu Lintas Giro],” tuturnya.

BI menetapkan batas maksimal transfer lewat BI-Fast sebanyak Rp250 juta, sedangkan minimal transfer Rp1. BI-Fast juga lebih fleksibel dibandingkan sistem pembayaran Real Time Gross Settlement (RTGS), yang menetapkan dana transfer Rp100 juta – Rp250 juta.

Selain itu, penetapan skema harga BI-Fast dari BI ke peserta ditetapkan Rp19 per transaksi, sementara dari peserta ke nasabah ditetapkan maksimal Rp2.500 per transaksi. Nilai ini lebih murah dibandingkan tarif SKNBI yang dipatok maksimum Rp2.900 per transaksi.

Keunggulan lain adalah waktu penyelesaian pembayaran yang hanya berdurasi sekitar 25 detik. Hal tersebut membedakannya dengan model transaksi SKNBI, yang terbatas pada jam-jam tertentu untuk transaksi dalam jumlah besar.

Di sisi lain, Hera menyampaikan bahwa transaksi digital perseroan selama pandemi telah meningkat signifikan. Hingga kuartal III/2021, transaksi internet banking BCA tumbuh 29 persen secara tahunan (yoy) menjadi 1,09 miliar transaksi.

Transaksi mobile banking BCA turut melonjak 55 persen yoy menjadi 2,64 miliar. Porsi transaksi digital banking yang mencakup mobile dan internet banking BCA sebesar 88 persen per kuartal III/2021. Adapun porsi transaksi di kantor cabang tercatat hanya 0,5 persen.

Hera menambahkan ke depannya BCA akan terus memperkuat ekosistem finansial, menyempurnakan dan melakukan modernisasi infrastruktur teknologi informasi yang dimiliki.

Langkah itu guna mendukung keandalan dan keamanan berbagai layanan perbankan transaksi digital, sehingga volume transaksi digital perbankan bisa meningkat dan mampu mendukung pertumbuhan bisnis.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bca
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top