Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

2 Ekosistem Ini Bakal Jadi Rebutan Bank Digital, Apa Itu? 

Ekosistem yang paling ideal untuk dibidik bank digital, yaitu platform berbentuk marketplace yang memiliki basis merchant dan pengguna melimpah.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 11 Januari 2022  |  19:26 WIB
Nasabah melakukan transaksi melalui aplikasi Allo Bank di Jakarta, Selasa (4/1/2022). Bisnis - Fanny Kusumawardhani
Nasabah melakukan transaksi melalui aplikasi Allo Bank di Jakarta, Selasa (4/1/2022). Bisnis - Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA – Bank digital dipercaya akan mulai berebut ekosistem milik platform atau aplikasi yang punya kemampuan menggambarkan kondisi finansial pelaku usaha atau masyarakat sektor informal secara berkala. 

Ekonom Senior Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani mengungkap hal tersebut untuk menanggapi fenomena maraknya sinergi dan aksi korporasi antara perusahaan berbasis teknologi dengan bank digital. 

Menurut Aviliani, ekosistem yang paling ideal untuk dibidik bank digital, yaitu platform berbentuk marketplace yang memiliki basis merchant dan pengguna melimpah. Contoh paling mudah adalah e-commerce, selain itu marketplace jasa seperti platform ride-hailing, food delivery, dan aplikasi sejenis lainnya juga menjadi incaran. 

Ekosistem lain yang juga menggoda bank digital, yaitu perusahaan teknologi yang bergerak di bidang enabler UMKM atau aplikasi pembantu aktivitas (SaaS) usaha mereka. Contohnya, kasir digital, pembukuan arus kas digital, e-invoicing, termasuk payment gateway dan dompet digital (e-wallet). 

"Bank digital untuk berkompetisi di segmen ritel harus punya bekal basis data alternatif. Apalagi, sekarang belum ada credit-rating khusus UMKM, usaha perorangan, dan pekerja informal. Membuktikan mereka ini layak kredit atau tidak itu kan, susah. Tapi pada akhirnya fenomena ini dampaknya bagus buat inklusi keuangan Indonesia," ujarnya kepada Bisnis, dikutip Selasa (11/1/2022). 

Pasalnya, Aviliani memperkirakan bank digital akan lebih banyak mencari pendapatan lewat fee transaksi dan penyaluran kredit ritel. Segmen korporasi dengan nominal transaksi jumbo tak akan menjadi incaran, karena segmen ini biasanya sudah diambil oleh bank konvensional. 

Sebab itu, platform digital yang memiliki kemampuan merekam behaviour dan cash-flow penggunanya, merupakan angin segar buat bank digital dalam hal akuisisi nasabah dan menggelar operasional secara efektif. 

Sebagai contoh, platform Gojek menjadi memiliki ekosistem yang terbilang komplit, sehingga kemungkinan PT Bank Jago Tbk (ARTO) alias Jago untuk sukses pun terbuka lebar. 

Selain potensi dari para mitra pengemudi ojek online (ojol) dan para pengguna, Jago juga bisa melihat-lihat ekosistem pelaku usaha yang menggunakan Gopay, Midtrans, Selly, GoBiz, Moka POS, sampai GoStore, yang semuanya berada dalam naungan Gojek. 

"Sekarang ini UMKM sudah mulai pakai platform buat membantu aktivitas usaha. Contoh, kalau mereka menerima pembayaran nontunai via e-wallet, kelihatan bagaimana cash-flow dari aplikasi terkait. Kalau cuma jadi alat pembayaran dan saldo menumpuk, lama-lama sampai batasnya. Inilah saat di mana layanan bank digital makin relevan buat mereka," jelasnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

e-commerce Bank Digital
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

To top