Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kondisi Keuangan Program JHT BPJS Diklaim Membaik, Simak Detilnya

Kondisi kesehatan keuangan program Jaminan Hari Tua (JHT) tercatat makin membaik pada kuartal I/2022. BPJS Ketenagakerjaan atau BPJamsostek melaporkan posisi rasio solvabilitas JHT per Maret 2022 telah mencapai 99,09 persen.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 05 Mei 2022  |  22:34 WIB
Karyawati melayani peserta di salah satu kantor cabang BPJamsostek di Jakarta (24/1/2022). Bisnis - Suselo Jati
Karyawati melayani peserta di salah satu kantor cabang BPJamsostek di Jakarta (24/1/2022). Bisnis - Suselo Jati

Bisnis.com, JAKARTA--Kondisi kesehatan keuangan program Jaminan Hari Tua (JHT) tercatat makin membaik pada kuartal I/2022. BPJS Ketenagakerjaan atau BPJamsostek melaporkan posisi rasio solvabilitas JHT per Maret 2022 telah mencapai 99,09 persen.

Rasio solvabilitas tersebut tercatat meningkat dibandingkan posisi pada akhir 2021 yang mencapai 97,67 persen. Peningkatan ini menandakan selisih kurang jumlah aset JHT terhadap liabilitas kepada peserta makin mengecil.

Adapun, berdasarkan laporan keuangan BPJS Ketenagakerjaan audited, jumlah aset JHT pada 2021 tercatat mencapai Rp378,98 triliun dengan liabilitas kepada peserta mencapai Rp388,03 triliun. Dengan demikian, masih terdapat defisit aset JHT sebesar Rp9,05 triliun pada 2021.

Meski rasio solvabilitas masih di bawah 100 persen, Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Anggoro Eko Cahyo mengatakan bahwa solvabilitas JHT dikategorikan sehat. Dia menyebut, penilaian rasio solvabilitas JHT pada laporan keuangan 2021 audited tersebut berdasarkan pada accounting treatment dan secara keseluruhan dipastikan nilai pasar aset JHT dapat memenuhi kebutuhan liabilitas JHT.

"Karena karakteristik program JHT bersifat jangka panjang sehingga tingkat solvabilitas JHT dengan angka-angka ini dikategorikan sehat," ujar Anggoro pekan lalu.

Lebih lanjut, Direktur Keuangan BPJS Ketenagakerjaan Asep Rahmat Suwandha menjelaskan lebih rendahnya aset JHT dibandingkan liabilitasnya disebabkan adanya perbedaan pencatatan aset investasi. Dia menuturkan, aset investasi dicatat sesuai harga pasar, yang dalam 2 tahun terakhir ini nilai pasar dari portofolio aset investasi di saham dan reksadana menurun akibat turunnya kondisi perekonomian dan pandemi.

Sementara itu, aset investasi di portofolio lain yang bersifat jangka panjang, seperti obligasi, dicatat sebagai harga perolehan.

"Sebetulnya kalau itu dinilai secara harga pasar keseluruhan maka kami yakini nilainya jauh dari kewajiban, terutama untuk program JHT. Jadi kalau dihitung [rasio solvabilitas] lebih dari 100 persen," jelas Asep.

Meski demikian, Asep tak memungkiri tingkat solvabilitas JHT yang di bawah 100 persen harus tetap dikelola dengan baik. Pada 2020, rasio solvabilitas JHT sempat tercatat berada di level 95,42 persen.

Dia menuturkan, pihaknya melakukan upaya perbaikan solvabilitas JHT dengan menerapkan strategi pengelolaan investasi berbasis risiko, salah satunya dengan memitagasi dampak pasar terhadap nilai aset. Menurutnya, strategi tersebut berhasil meningkatkan tingkat solvabilitas JHT ke level 97,67 persen pada akhir 2021 dan 99,09 persen pada Maret 2022.

"Jika kemudian perekonomian lebih baik termasuk pasar modalnya, ditambah dilanjutkan strategi investasi yang memitigasi secara baik risiko pasar, itu tentu akan lebih memudahkan proses solvabilitas menuju angka 100 persen," katanya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi bpjs jaminan hari tua bpjs ketenagakerjaan
Editor : Pandu Gumilar

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top