Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bos BI Klaim Indonesia Beruntung, Koordinasi Fiskal dan Moneter Kuat

Koordinasi antara pemerintah, fiskal dan moneter sangat kuat sehingga tidak berdampak signifikan terhadap inflasi dalam negeri.
Ni Luh Anggela
Ni Luh Anggela - Bisnis.com 15 Juni 2022  |  10:19 WIB
Bos BI Klaim Indonesia Beruntung, Koordinasi Fiskal dan Moneter Kuat
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berbincang dengan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo sebelum memimpin pertemuan tingkat Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral atau Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting (FMCBG) di Jakarta Convention Center, Jakarta, Kamis (17/2/2022).ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A - POOL

Bisnis.com, JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, Indonesia sangat beruntung di tengah kenaikan harga energi dan komoditas dunia lantaran koordinasi antara pemerintah, fiskal dan moneter sangat kuat sehingga tidak berdampak signifikan terhadap inflasi dalam negeri.

Sebagaimana diketahui, dunia saat ini tengah menghadapi risiko global, yaitu tingginya harga komoditas global baik energi maupun pangan yang berdampak terhadap inflasi di berbagai negara.

"Berbeda dengan negara-negara lain, Indonesia itu sangat beruntung karena koordinasi antara pemerintah, fiskal dan moneter sangat-sangat kuat," kata Perrry dalam seminar nasional bertajuk 'Managing Inflation to Boost Economic Growth', Rabu (15/6/2022).

Menyikapi kenaikan harga energi dan pangan, pemerintah baru-baru ini telah mendapat persetujuan dari DPR untuk menaikkan subsidi, khususnya untuk premium, diesel, listrik, LPG dan juga meningkatkan bantuan sosial.

Dalam konteks seperti ini, jelas Perry, BI juga ikut berpartisipasi dalam pembiayaan Bahan Bakar Minyak (BBM) sampai dengan tahun ini.

BI di tahun ini juga ikut membeli Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp224 triliun untuk pembiayaan kesehatan dan kemanusiaan, yang diantaranya diserahkan kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati untuk dialokasikan ataupun membiayai pendanaan subsidi.

"Makanya dampak dari kenaikan harga energi dan komoditas global terhadap inflasi dalam negeri itu dapat dikendalikan," ungkapnya.

Di lain sisi, Perry memperkirakan inflasi IHK pada akhir tahun ini mencapai 4,2 persen. Namun, inflasi inti dan ekspektasi inflasi masih bisa terkendali dalam kisaran 3 persen plus minus satu persen. Bahkan, kata Perry, akan kembali dalam batas sasaran, baik IHK ekspektasi inflasi maupun inflasi inti.

"Untuk tahun depan tentu saja fiskal defisit  akan kembali tidak lebih dari 3 persen dan Bank Sentral atau BI tidak lagi membeli SBN di pasar perdana," jelas dia.

Sebelumnya, BI positif terhadap outlook economic Indonesia, dimana BI memprediksi pertumbuhan pada tahun ini meningkat di kisaran 4,5 hingga 5,3 persen di 2022 dan meningkat menjadi 4,7-5,5 persen di 2023.

Dengan  demikian, kata Perry, Indonesia kembali pada pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen. Adapun, dukungannya tidak hanya dari konsumsi domestik karena mobilitas yang  terus meningkat namun juga dari ekspor, investasi serta stimulus fiskal dan moneter.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bank Indonesia fiskal kebijakan moneter
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top