Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ekonom: Perbankan Kerek Suku Bunga KPR hingga KKB dalam 6 Bulan Mendatang

Ekonom menilai kenaikan harga BBM bisa menyebabkan permintaan terhadap kredit tertahan atau tidak tumbuh.
Rika Anggraeni
Rika Anggraeni - Bisnis.com 30 Agustus 2022  |  14:58 WIB
Ekonom: Perbankan Kerek Suku Bunga KPR hingga KKB dalam 6 Bulan Mendatang
Foto udara areal komplek perumahan bersubsidi di kawasan Jalan Kecipir, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Jumat (15/7/2022). - Antara Foto/Makna Zaezar
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75 persen bakal memengaruhi perbankan dalam menaikkan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor (KKB).

Mengenai hal itu, ekonom memperkirakan perbankan mulai mengerek suku bunga KPR dan KKB pada 3—6 bulan atau 1 triwulan sampai dengan 2 triwulan. 

Mengutip laporan Uang Beredar (M2) yang dirilis Bank Indonesia (BI) edisi Juli 2022, penyaluran kredit perbankan tercatat sebesar Rp6.143,7 triliun atau tumbuh 10,5 persen yoy. Adapun, untuk jenis kredit KPR/KPA mengalami pertumbuhan sebesar 7,3 persen yoy menjadi Rp587 triliun. 

Ekonom dan Direktur Riset Senior Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah mengatakan secara teori, sudah sepatutnya kenaikan suku bunga acuan BI berimbas pada perbankan yang ikut mengerek suku bunga KPR dan KKB. 

Piter menyampaikan bahwa tujuan dari bank sentral Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 3,75 persen adalah untuk mengurangi likuiditas serta menahan pertumbuhan kredit perbankan. 

"Kalau suku bunga [KPR dan KKB] tidak naik, penyaluran kredit tetap tinggi berarti kenaikan suku bunga acuan BI itu tidak efektif, jadi, seharusnya naik [suku bunga KPR dan KKB]," kata Piter kepada Bisnis, Selasa (30/8/2022). 

Lebih lanjut, dia menilai naiknya suku bunga KPR maupun KKB yang dilakukan perbankan merupakan hal yang lumrah. Dia menjelaskan kenaikan harga tersebut pada umumnya dilakukan untuk jenis kredit baru. 

Adapun, dia memperkirakan tinggi atau rendahnya laju pertumbuhan bisnis KPR dan KKB di tahun ini bukan hanya dipengaruhi oleh kenaikan suku bunga, melainkan juga dipengaruhi faktor lain. Salah satunya adalah isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). 

Kalau asumsinya faktor lain tidak berubah, walaupun mengalami kenaikan suku bunga KPR dan KKB, saya perkirakan proses pulihnya ekonomi ini akan menyebabkan tetap tumbuh kredit KKB maupun KPR,” lanjutnya. 

Akan tetapi, sambung Piter, apabila pemerintah menaikkan harga BBM maka itu akan mempengaruhi proses pemulihan ekonomi secara keseluruhan yang menyebabkan harga-harga naik dan daya beli terpangkas, serta pertumbuhan ekonomi turun. 

“Bisa juga [kenaikan harga BBM] menyebabkan permintaan terhadap kredit tertahan atau tidak tumbuh, ataupun kalau tumbuh itu tumbuhnya sangat kecil. Jadi tidak hanya disebabkan oleh kenaikan suku bunga, tapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain,” jelasnya. 

Piter menekankan bahwa hal yang paling gamblang adalah penyaluran kredit akan sangat bergantung pada kondisi ekonomi. Artinya, kondisi ekonomi memiliki punya hubungan bolak-balik dengan penyaluran kredit umumnya. 

Penyaluran kredit akan mendukung pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi akan mendorong penyaluran kredit, secara ekonomi seperti itu,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kpr kkb suku bunga acuan perbankan
Editor : Muhammad Khadafi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top