Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Suku Bunga Acuan Naik, Ini yang Dilakukan Bank Mandiri (BMRI)

Kenaikan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 50 basis poin menjadi 4,25 persen. Bank Mandiri (BMRI) pasang kuda-kuda.
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 22 September 2022  |  19:35 WIB
Suku Bunga Acuan Naik, Ini yang Dilakukan Bank Mandiri (BMRI)
Pegawai melakukan transaksi menggunakan Livin by Mandiri di Jakarta, Selasa (26/7/2022). Bisnis - Himawan L Nugraha
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) akan menyesuaikan suku bunga simpanan dan kredit dalam beberapa bulan ke depan seiring kenaikan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 50 basis poin menjadi 4,25 persen. 

Berdasarkan asesmen terkini, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 21 – 22 September 2022 memutuskan untuk menaikkan BI7DRR sebesar 50 bps menjadi 4,25 persen.

Pada saat bersamaan, suku bunga deposit facility turut meningkat sebesar 50 bps menjadi 3,50 persen, dan suku bunga lending facility juga naik 50 bps menjadi 5,00 persen.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan Keputusan kenaikan suku bunga tersebut sebagai langkah pencegahan sekaligus forward looking untuk menurunkan ekspektasi inflasi dan memastikan inflasi inti kembali ke sasaran 2 hingga 4 persen pada paruh kedua 2023.

Kenaikan suku bunga acuan, lanjutnya, juga mempertimbangkan langkah untuk memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.

Terkait hal tersebut, Sekretaris Perusahaan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) Rudi As Aturridha menuturkan bahwa secara umum diproyeksikan bank-bank akan membutuhkan waktu penyesuaian suku bunga simpanan dan kredit dalam 3 – 6 bulan ke depan.

“Penyesuaian ke dalam bunga kredit juga akan sangat bergantung kepada kualitas kredit di masing-masing bank sehingga adjustment tidak akan menimbulkan potensi kenaikan NPL [non-performing loan] ke depannya,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (22/9/2022).

Selain itu, kata Rudi, kondisi lain yang menjadi pertimbangan antara lain likuiditas pasar dan struktur biaya dana atau cost of fund untuk suku bunga dana.

“Ke depannya, kami akan terus memantau perkembangan suku bunga acuan, posisi likuiditas, dan kompetisi di pasar, agar rate yang kami berikan ke nasabah tetap kompetitif,” pungkasnya.

Rudi menambahkan bahwa dari sisi industri, kondisi perbankan Indonesia saat ini cukup baik dengan permodalan yang kuat dan kondisi likuiditas terjaga baik. Pertumbuhan kredit juga terus berakselerasi sejalan dengan pemulihan ekonomi.

Bank sentral mencatat kredit perbankan tumbuh 10,62 persen secara year-on-year (yoy). Adapun pemulihan intermediasi juga diperlihatkan perbankan syariah yang mencatatkan kenaikan pembiayaan sebesar 18,7 persen.

Selain itu, permodalan perbankan tetap tangguh dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) per Juli 2022 sebesar 24,86 persen. Risiko juga terkendali tecermin dari rasio kredit bermasalah atau NPL sebesar 2,90 persen (bruto) dan 0,82 persen (neto).

Likuiditas perbankan sampai dengan Agustus 2022 tetap terjaga didukung oleh pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 7,77 persen secara tahunan, meskipun capaian ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada Juli 2022 sebesar 8,59 persen.

Perlambatan DPK dikontribusikan oleh peningkatan konsumsi masyarakat, belanja modal korporasi, dan preferensi penempatan dana pada aset keuangan lain yang terindikasi dari nilai kepemilikan Surat Berharga Negara. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank mandiri bmri Bank Indonesia
Editor : Pandu Gumilar
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top