Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Kredit Sindikasi ke Sektor Energi Meroket Hampir 4 Kali Lipat

Kredit sindikasi dari perbankan ke sektor energi tumbuh saat segmen lain mengalami kontraksi.
Alifian Asmaaysi
Alifian Asmaaysi - Bisnis.com 08 November 2022  |  15:25 WIB
Kredit Sindikasi ke Sektor Energi Meroket Hampir 4 Kali Lipat
Sejumlah pekerja melakukan perawatan sumur Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) di Perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Selasa (14/6/2022). - Antara Foto/M Risyal Hidayat
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Penyaluran kredit sindikasi dari perbankan pada sektor energi hingga kuartal III/2022 melesat 284 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), menjadi US$4,8 miliar atau Rp75,83 triliun (kurs Rp15.695) di tengah kondisi krisis global.

Mengutip data Bloomberg, energi tumbuh saat hampir seluruh sektor unggulan mengalami kontraksi. Capaian ini membuat energi menjadi kontributor kredit sindikasi kedua terbesar (21,74 persen), di bawah bahan baku atau materials. 

Sebagai informasi, sepanjang Januari–September 2021, pembiayaan yang mengalir ke sektor energi senilai US$1,25 miliar atau hanya 7,3 persen dari total kredit sindikasi atau duduk pada urutan ke 6 dari 8 sektor.

Direktur Segara Institute Piter Abdullah Redjalam menjelaskan terdapat peningkatan kebutuhan modal kerja pada sektor energi hingga akhirnya berbanding lurus dengan kredit sindikasi yang kian gemuk mengalir ke sektor tersebut.

"Kredit sindikasi meningkat di sektor energi utamanya disebabkan oleh kenaikan kebutuhan investasi dan modal kerja di sektor ini seiring dengan kenaikan harga komoditas, harga minyak dan harga batu bara melambung tinggi," jelas Piter kepada Bisnis, Selasa (8/11/2022).

Lebih lanjut, Piter juga menyoroti kebutuhan pangsa pasar pada sektor energi masih tetap kuat di tengah gerusan proyeksi resesi global.

"Walaupun tahun depan diperkirakan resesi global dan akan menyebabkan penurunan permintaan, tetapi harga komoditas khususnya energi masih akan tetap tinggi," pungkas Piter.

Kendati demikian, Piter juga tetap memproyeksikan adanya penurunan harga dan permintaan pasar pada sektor energi, hanya saja rasionya dinilai tidaklah besar.

"Sektor pertambangan masih akan mengalami boom. Penurunan pasti terjadi, tetapi tidak besar," tutup Piter.

Adapun dari sisi mandated lead arranger (MLA), Bank Mandiri tercatat menjadi bank yang kucurkan dana tertinggi pada sektor energi atau senilai US$609,33 juta dengan 6 kesepakatan pada kuartal III/2022.

Sementara itu, kredit sindikasi hingga kuartal III/2022 tumbuh 29,75 persen yoy menjadi US$22,2 miliar atau Rp348,81 triliun (kurs Rp15.695).

Selain energi, materials dan finansial menjadi dua sektor yang mencatatkan pertumbuhan sepanjang Januari–September 2022. Material tercatat naik 64 persen yoy menjadi US$7,02 miliar dan menjadi kontributor utama penyaluran kredit sindikasi. 

Selanjutnya, sektor finansial tumbuh 46 persen yoy menjadi US$2,73 miliar. Industi dan utilitas yang pada tahun lalu menyerap kredit sindikasi, masing-masing, turun 12 persen yoy dan 37 persen yoy. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan energi kredit sindikasi Krisis Energi
Editor : Muhammad Khadafi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top