Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rawan Serangan Siber, Sektor Perbankan Perbesar Capex untuk Investasi IT

Sektor perbankan mulai memperbesar guyuran belanja modalnya untuk berinvestasi di bidang informasi teknologi (IT) seiring dengan meningkatnya serang siber.
Ilustrasi teknologi informasi atau IT perbankan/ Freepik.
Ilustrasi teknologi informasi atau IT perbankan/ Freepik.

Bisnis.com, JAKARTA - Sektor perbankan mulai memperbesar kucuran belanja modal atau capital expenditure (capex) pada tahun ini untuk berinvestasi di bidang informasi dan teknologi (IT) seiring dengan meningkatnya potensi serangan siber. 

Berdasarkan data dari Checkpoint Research 2022, sektor jasa keuangan termasuk perbankan mendapatkan 1.131 kali serangan siber setiap pekannya. Sementara, data International Monetary Fund (IMF) pada 2020 menyebutkan total kerugian rata-rata tahunan akibat serangan siber di sektor jasa keuangan secara global mencapai sekitar US$100 miliar.

Direktur Technology & Operations BNI Toto Prasetio mengatakan seiring dengan pesatnya digitalisasi di sektor perbankan, keamanan siber pun menjadi tantangan. Tren ke depan, serangan siber akan menjadi force majeure tersendiri di perbankan.

Ditambah, banyak terjadinya penipuan atau social engineering yang dilakukan dengan mengelabui nasabah perbankan.

BNI telah mencanangkan capex IT sekitar 3 persen dari gross income atau revenue mereka pada 2022.

"Bank pun akan extend capex dan opex [operational expenditure] yang meningkat dengan adanya siber attack ini. Ini karena membereskan kasus serangan siber bukan hal yang mudah. Kejadian ini berkaitan data, aplikasi dan lainnya," tutur Toto dalam acara talkshow bertajuk Challenges of Accelerating Digital Transformation for Indonesia’s Economic Growth pada Rabu (26/7/2023) di Jakarta.

Sementara itu, sejumlah bank memang telah menganggarkan bahkan meningkatkan capex IT mereka tahun ini. PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) atau BSI misalnya telah meningkatkan capex IT setelah terindikasi mendapatkan serangan siber ransomware.

BSI memang sempat diterpa kabar dugaan kebocoran data nasabah oleh kelompok ransomware LockBit di situs dark web. Total data yang dibocorkan mencapai 1,5 terra byte yang mencakup data nasabah dan karyawan BSI. 

Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo mengatakan atas kasus serangan siber yang menimpa BSI, pemerintah selaku pemegang saham meminta agar bank syariah tersebut berbenah. Upaya-upaya pembenahan itu diantaranya dilakukan dengan menaikkan capex IT.

"Kita hitung ulang karena dengan kejadian kemarin kan menginvestigasi apa saja kekurangannya. Nanti saya minta hitung ulang berapa kebutuhan tambahan untuk security investment," kata Tiko, sapaan akrabnya.

Di lain pihak, PT Bank Maybank Indonesia Tbk. (BNII) juga telah mengalokasikan capex untuk kebutuhan IT termasuk keamanan siber hingga Rp2 triliun.

Presiden Direktur Maybank Indonesia Taswin Zakaria mengatakan Maybank Indonesia telah mengalokasikan capex IT itu sejak 2021. Penggunaan dananya dalam jangka waktu tiga tahun atau sampai dengan 2024.

Adapun, realisasi capex IT Maybank hingga awal tahun ini telah mencapai 60 persen sampai dengan 70 persen. Pemanfaatannya yakni untuk modernisasi perangkat IT hingga keamanan siber.

"Capex IT kisaran Rp1 triliun hingga Rp2 triliun," kata Taswin dalam paparan publik pada Selasa (23/5/2023) di Jakarta.

Sementara itu, PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN) juga menyiapkan dana capex IT senilai US$100 hingga US$115 juta atau sekitar Rp1,5 hingga Rp1,7 miliar tahun ini. Dana tersebut dianggarkan untuk menunjang pengembangan IT yang telah masuk dalam rencana pengembangan bisnis pada 2023.

Sekretaris Perusahaan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) Aestika Oryza Gunarto sebelumnya mengatakan BRI setiap tahunnya menganggarkan capex sebesar Rp7 triliun hingga Rp8 triliun. Kemudian, 57 persen di antaranya dialokasikan khusus untuk capex IT.

Tahun ini saja, perseroan berencana mengembangkan infrastruktur IT, menciptakan solusi, produk dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan nasabah.

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan perbankan pun perlu mengalokasikan labanya untuk implementasi peningkatan manajemen risiko, termasuk antisipasi serangan siber, daripada jor-joran menebar dividen yang jumbo.

"Kami mencermati bahwa rasio dividend payout dari berbagai bank nampak terlalu besar yang dapat membatasai kemampuan bank untuk melakukan investasi dalam mendukung transformasi dan inovasi digital yang sangat diperlukan," jelasnya dalam agenda Rapat Umum Anggota Ikatan Bankir Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Muhammad Ridwan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper