Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Bos BI Sebut Nilai Tukar Rupiah Secara Fundamental Mestinya Menguat

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan bahwa secara fundamental, nilai tukar rupiah seharusnya mampu menguat dari levelnya saat uniq
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo./Bisnis - Annasa
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo./Bisnis - Annasa

Bisnis.com, JAKARTA – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan bahwa secara fundamental, nilai tukar rupiah seharusnya mengalami penguatan.

Perry menyampaikan, perkembangan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor fundamental dan pemberitaan.

Secara fundamental, dia menjelaskan bahwa fundamental perekonomian Indonesia cenderung menguat, salah satunya tercermin dari surplus neraca perdagangan yang berlanjut hingga akhir 2023.

Tercatat, surplus neraca perdagangan Indonesia pada Desember 2023 mencapai US$3,31 miliar dan ini menandakan surplus selama 44 bulan beruntun. Secara total, surplus perdagangan pada 2023 tercatat sebesar US$36,93 miliar.

Perry mengatakan, surplus yang terus berlanjut hingga akhir 2023 ini mengindikasikan pasokan valas di dalam negeri terjaga.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap kuat dan laju inflasi pada 2023 terkendali dalam kisaran yang rendah, mencapai 2,61% pada akhir 2023.

“Jadi ini faktor-faktor fundamental itu mestinya rupiah menguat, itu trennya,” jelas Perry dalam konferensi pers hasil rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Selasa (30/1/2024).

Di sisi lain, Perry menyampaikan bahwa perkembangan nilai tukar rupiah lebih dipengaruhi oleh pemberitaan atau kondisi global.

Pertama, pasar memperkirakan bahwa bank sentral Amerika Serikat (AS), the Fed, diperkirakan akan menurunkan suku bunga lebih cepat, yaitu pada kuartal I/2024 atau kuartal II/2024.

Namun demikian, berdasarkan indikator perekonomian terkini AS dan pernyataan pejabat the Fed, suku bunga kemungkinan tidak akan diturunkan secara terburu-buru.

“Dalam 1-2 minggu terakhir ini yang berpengaruh terhadap tatanan nilai tukar, tidak hanya rupiah, tapi seluruh dunia,” jelasnya.

Faktor kedua dari global, yaitu pemberitaan terkait eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah dan Laut China Selatan.

Selain itu, ada juga kebijakan di China yang menghentikan pinjaman saham tertentu agar tidak terjadi short selling, dalam rangka menjaga pasar saham tidak merosot di negara tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Maria Elena
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper