Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

OJK Ungkap Margin Bunga Bank (NIM) Susut, Apa Penyebabnya?

Begini penjelasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait margin bunga bank (NIM) yang kian menyusut.
Deputi Komisioner Pengawas Bank Pemerintah dan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Defri Andri (kiri) didampingi Direktur Pemasaran Bisnis Indonesia Group Hery Trianto selaku Moderator menyampaikan paparan saat diskusi sesi ke-2 pada acara Bisnis Indonesia BUMN Forum 2024 di Jakarta, Selasa (30/4/2024). Bisnis/Arief Hermawan P
Deputi Komisioner Pengawas Bank Pemerintah dan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Defri Andri (kiri) didampingi Direktur Pemasaran Bisnis Indonesia Group Hery Trianto selaku Moderator menyampaikan paparan saat diskusi sesi ke-2 pada acara Bisnis Indonesia BUMN Forum 2024 di Jakarta, Selasa (30/4/2024). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kinerja keuangan perbankan per Februari 2024 terbilang stabil. Meski demikian, tercatat adanya penurunan margin bunga bersih (net interest margin/NIM).

Deputi Komisioner Pengawas Bank Pemerintah dan Syariah OJK Defri Andri menyebut penyusutan ini lantaran disebabkan adanya peningkatan suku bunga acuan serta persentase biaya dana (cost of fund) lebih tinggi dibandingkan kredit. 

"Akan tetapi, perbankan masih punya bantalan yang cukup. NIM RI masih menarik di regional," ujarnya pada Bisnis Indonesia BUMN Forum 2024, Selasa (30/4/2024).

Mengacu pada data OJK, NIM perbankan pada Februari 2024 mencapai 4,5% turun 31 basis poin (bps) dari 4,81% per Desember 2024. Adapun, dibandingkan bulan sebelumnya atau Januari 2024 di level 4,54%. 

Lalu, NIM perbankan turun 18 basis poin (bps) secara tahunan (year-on-year/yoy) atau dibandingkan NIM pada Februari 2023 di level 4,72%.

Sebelumnya, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) Jahja Setiaatmadja juga memproyeksikan suku bunga acuan pada tahun ini berada dalam ketidakpastian. 

Dia memperkirakan penurunan suku bunga The Fed baru terjadi pada Desember 2024 atau bahkan lebih ekstrem pada tahun depan.

Menurutnya, apabila The Fed enggan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat, hal itu akan membuat lebih sulit bagi bank sentral negara-negara lain untuk menurunkan suku bunga acuan mereka, termasuk di Indonesia. 

Kondisi tersebut akan memengaruhi strategi perbankan, termasuk dalam menjaga NIM. 

"Kita ikuti saja keadaan," ujarnya dalam paparan kinerja pada Senin (23/4/2024).

Tercatat, BCA masih mencatatkan pertumbuhan NIM pada awal tahun ini dari 5,59% per akhir Maret 2023 menjadi 5,62% per akhir Maret 2024.

Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) membukukan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) turun tipis 8 basis poin (bps) dari 6,67% pada kuartal I/2023 menjadi 6,59% pada kuartal I/2024.

Kemudian, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) mencatat net interest margin berada di level 4,89% pada kuartal I/2024 dari 5,11%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper