Bisnis.com, JAKARTA - Pemutusan hubungan kerja (PHK) saat ini marak terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi global. Perbankan raksasa global pun turut mengambil langkah ini dengan beragam pertimbangan.
Dilansir Bloomberg pada Kamis (27/2/2025), bank terbesar di Asia Tenggara DBS Group Holdings Ltd. berencana untuk memangkas atau melalukan PHK sekitar 4.000 karyawan berstatus kontrak dan sementara dalam 3 tahun ke depan. Rencana ini disebabkan sejumlah posisi mulai tergantikan oleh teknologi akal imitasi (artificial intelligence/AI).
CEO DBS Group Piyush Gupta menyampaikan perusahaan memiliki sekitar 8,000 hingga 9,000 karyawan kontrak. Dia memberikan konfirmasi terhadap laporan media Press Trust of India, yang menyatakan bahwa perusahaan ini akan memangkas jumlah karyawan imbas dari penggunaan teknologi AI di sejumlah bisnis.
Meskipun demikian, karyawan permanen tidak akan terdampak, kata Gupta. DBS diketahui memiliki sekitar 41.000 karyawan saat ini dan Deputi CEO Tan Su Shan bakal menggantikan Gupta di pucuk pimpinan DBS pada 28 Maret 2025.
"Pengurangan tenaga kerja akan terjadi karena pemangkasan alami seiring dengan bergantinya peran dari para pegawai sementara dan kontrak selama beberapa tahun ke depan," menurut juru bicara DBS.
Pada hari yang sama, Reuters memberitakan HSBC memangkas jumlah karyawan di bisnis digital wealth yang berada di China, Pinnacle, hampir separuh dari total pegawai atau setara 900 orang.
Pinnacle diluncurkan pada 2020, yang menjual produk asuransi dan pengelolaan dana melalui platform digital di China. Perusahaan ini mempekerjakan sekitar 2.100 orang di dua unit utamanya hingga akhir Juni tahun lalu, menurut perhitungan Reuters berdasarkan data perusahaan dan catatan bisnis resmi.
Pemangkasan ini menggarisbawahi tantangan yang dihadapi oleh bank yang fokus ke pasar Asia ini, untuk meningkatkan pertumbuhan dan profitabilitas di China di saat harus menekan beban demi kenaikan laba.
Reuters sebelumnya telah melaporkan pada Oktober 2024 bahwa bank terbesar di Eropa berdasarkan aset itu mulai menyelidiki sejumlah pos beban, seperti struktur kompensasi staf danbiaya beban dari suplier, yang berkontribusi pada lonjakan tajam beban yang melampaui pendapatan di Pinnacle.
Pengurangan staf tersebut melibatkan PHK, pengurangan alami, dan pemindahan ke unit lain dalam grup perbankan di China, kata kedua sumber Reuters.
Sementara, pada Kamis (16/1/2025), Reuters juga memberitakan bank jumbo asal Amerika Serikat Citigroup melakukan pemotongan sejumlah posisi karyawan setelah melalui pemeriksaan selama satu tahun. Kebijakan ini merupakan bagian dari program reorganisasi di bawah CEO Jane Fraser untuk memangkas biaya.
Beberapa direktur pelaksana di unit bisnis pengelolaan dana nasabah serta teknologi telah meninggalkan perusahaan. Citi juga memberhentikan beberapa karyawan di tim yang bertugas menyusun data dan analisis kepada para klien, menurut laporan Bloomberg.
"Pergantian pimpinan, pensiun, dan perubahan staf yang ditargetkan merupakan hal yang wajar dalam menjalankan bisnis," kata Citi dalam sebuah pernyataan. Namun, perusahaan menolak memberikan komentar lebih lanjut.
Sebagian besar restrukturisasi telah diselesaikan tahun lalu usai pengajuan rencana Fraser pada akhir 2023 untuk meningkatkan pendapatan, menyederhanakan operasi, dan mengatasi kekurangan yang sudah berlangsung lama dalam tata kelola data dan manajemen risiko bank.