Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

TIPS KEUANGAN KELUARGA: Utang, Siapa Takut!

JAKARTA—Utang, bagi setiap orang mungkin menakutkan, bahkan ada yang antiutang. Kerja keras yang dilakukan setiap hari selama beberapa tahun bekerja terkadang tak menjadi apa-apa akibat besarnya lilitan utang yang harus dilunasi.
- Bisnis.com 20 Januari 2013  |  10:39 WIB

JAKARTA—Utang, bagi setiap orang mungkin menakutkan, bahkan ada yang antiutang. Kerja keras yang dilakukan setiap hari selama beberapa tahun bekerja terkadang tak menjadi apa-apa akibat besarnya lilitan utang yang harus dilunasi.


Tak heran, kata-kata mutiara 'Berakit-rakit kita ke hulu, bersenang-senang kemudian' kerap mudah bertransformasi menjadi 'Bersakit-sakit dahulu, senang pun tak datang' hanya karena utang yang tak terukur.  Namun, ternyata utang ada gunanya juga asal paham cara menyikapinya.


Bagaimana cara menyikapi utang? Eko Endarto, perencana keuangan dari Finansial Consulting, memandang utang tidak perlu ditakuti bahkan bisa bermanfaat asal paham tentang utang.


Menurutnya, ada satu cara untuk menghadapi utang yaitu cicilan utang konsumtif jangan lebih dari 30% dari pendapatan Anda dan cicilan total utang jangan lebih dari 50% penghasilan Anda.


Dia menuturkan cicilan dapat dijadikan satu tolak ukur yang lebih baik dibandingkan dengan pagu utang (pokok/principal) karena cicilan lebih masuk akal dan lebih adil.


“Pokok utang berapa pun tidak apa-apa, bahkan beberapa kali dari penghasilan. Tidak pas jika  membandingkan penghasilan dengan pokok utang, karena semua tergantung kebutuhannya. Utang
bisa berupa cicilan rumah yang nilainya bisa belasan kali penghasilan.”


Utang itu pun, lanjut Eko, sebaiknya lebih banyak yang sifatnya mendasar dan fundamental, sehingga tidak hanya untuk berfoya-foya.


Bentuk utang tersebut juga sebaiknya diperbanyak dalam bentuk produktif dan yang nilainya dapat meningkat, sehingga bisa juga dijadikan salah satu bentuk instrumen investasi.


Eko mendefi nisikan utang produktif sebagai utang yang menopang modal untuk usaha, dalam bentuk pembelian barang penunjang seperti kendaraan operasional atau bahkan utang untuk setoran modal itu sendiri.


Utang yang nilainya meningkat, lanjutnya, bisa berupa tanah, rumah, bahkan emas yang saat ini bisa dicicil. Mengingat sifatnya yang terus meninggi setiap waktu, Eko menilai instrumen itu bisa juga dimasukkan ke dalam kategori investasi.


Lantas, seperti apa utang konsumtif yang harus dihindari itu? “Konsumtif itu berarti belanja yang sebenarnya tidak terlalu mendesak dan perlu,” katanya.


Meskipun tidak mendesak dan perlu, utang konsumtif memang  tak bisa dihindari juga. Nah, untuk
menghadapinya, perlu pengelolaan agar porsinya tidak terlalu besar. Bentuk utang konsumtif itu bisa berupa mobil mewah atau belanja berbagai hal yang menggunakan kartu kredit.


Kartu Kredit


Kartu kredit, tutur Eko, merupakan alat pembayar yang kadang dilupakan menjadi alat berutang juga karena terlalu asyik menganggapnya sebagai dana yang batasnya sangat tinggi atau bahkan tak
terbatas.
Sistem pengajuan dan mudah serta bunga-berbunga yang diterapkan seringkali juga semakin membuat penggunanya tak sadar jika barang yang dia beli sebetulnya hasil dari berutang kepada seseorang.


Dia menilai anggapan menyesatkan seperti itu seharusnya dapat lebih disikapi dengan akal sehat dan kebiasaan mengonsumsi yang lebih bijak dan terbatas dan menyingkirkan keinginan untuk berfoya-foya.
 

Meskipun harus dibatasi, dia mengatakan konsumen tidak seharusnya secara ekstrem menetapkan sikap anti terhadap kartu kredit karena di balik itu ternyata ada juga manfaat dari si mungil yang kekuatannya ajaib itu.


Dia menuturkan setidaknya ada tiga keuntungan kartu kredit. Pertama, dana cadangan atau dana darurat untuk keperluan mendesak, seperti ke rumah sakit atau menolong keluarga yang sedang
terkena musibah.


Kedua, dana siaga jika ada belanjaan yang kurang bayarnya padahal keperluannya mendesak. Ketiga, ada fi tur pinjaman atau belanja yang ditawarkan dan dapat dimanfaatkan, misalnya penawaran beli satu dapat dua, diskon harga barang tertentu, atau bahkan pinjaman berbunga 0%.


Eko menegaskan tidak akan jadi masalah kalau cicilan kartu kredit dibayar tepat waktu. Lantas untuk utang sendiri, dia mengatakan semua jenis utang ada gunanya asal dipahami esensinya, dihadapi
dengan dewasa dan dikelola dengan cermat. (sut)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top