DAMPAK KENAIKAN BBM: Pertumbuhan DPK Diproyeksi Melambat

BISNIS.COM, BALIKPAPAN--Perbankan memproyeksikan pertumbuhan dana pihak ketiga akan melambat apabila kebijakan penaikan harga BBM bersubsidi oleh pemerintah dikeluarkan.
Rachmad Subiyanto
Rachmad Subiyanto - Bisnis.com 20 Mei 2013  |  18:19 WIB

BISNIS.COM, BALIKPAPAN--Perbankan memproyeksikan pertumbuhan dana pihak ketiga akan melambat apabila kebijakan penaikan harga BBM bersubsidi oleh pemerintah dikeluarkan.

Area Manager Bank Mandiri Balikpapan Rudi Dharma menyebutkan kebijakan penaikan BBM bersubsidi pastinya akan mengerek inflasi yang tergambar pada kenaikan harga barang.

Akibatnya, pendapatan masyarakat pun tergerus sehingga mengurangi jumlah simpanan yang sudah dijadwalkan. 

“Otomatis akan memengaruhi simpanan masyarakat yang akan berdampak terhadap penghimpunan DPK,” ujarnya ketika dihubungi Bisnis, Senin (20/5/2013).

Perbankan akan menyiasati hal tersebut dengan memerbanyak nasabah atau menambah outlet baru untuk meningkatkan penetrasi. Hal ini tentunya juga akan berdampak terhadap biaya operasional yang harus ditanggung oleh perbankan. 

“Ini yang akan memertipis margin perbankan. Tinggal bagaimana mengelolanya,” tukasnya.

Head of Networks and Services Bank BNI Banjarmasin M. Amrullah mengatakan pihaknya akan fokus pada penghimpunan DPK guna menjaga tingkat suku bunga kredit agar tidak terlalu tinggi. 

Sementara itu, Ketua Asosiasi Perbankan Syariah Indonesia (Asbisindo) Balikpapan Nurfi Majidi mengatakan kenaikan BBM bersubsidi memang akan memengaruhi simpanan nasabah di bank.

Namun, dia meyakini dampak tersebut hanya terjadi pada awal pengeluaran kebijakan dan akan segera pulih dalam beberapa bulan setelahnya.

“Perkiraan sekitar 4 bulan setelah kebijakan ditetapkan. Tetapi kalau Balikpapan, kami pikir bisa lebih cepat karena pendapatan per kapita juga lebih besar,” ujarnya. 

Bagi karyawan, biasanya akan ada penyesuaian pendapatan dari masing-masing perusahaan akibat kenaikan harga BBM bersubsidi ini.

Adapun untuk pelaku usaha, akan menyesuaikan harga sesuai dengan kenaikan beban usaha yang harus ditanggung.

Efek semacam ini, kata Nurfi, yang akan membantu proses recovery akibat penaikan harga BBM bersubsidi.

Dia menambahkan komposisi penghimpunan DPK perbankan syariah memang bertumbuh lebih lambat dibandingkan dengan penyaluran pembiayaan. Bahkan, rasio simpanan dan pembiayaan pada Kuartal I/2013 mencapai 118,86%. 

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Tutuk S.H Cahyono mengatakan pengaruh perlambatan pertumbuhan DPK di wilayah kerjanya kemungkinan akan cepat kembali ke kondisi semula.

Perlambatan pertumbuhan pun tidak akan terlalu jauh, hanya sekitar 3% dari kondisi saat ini.

“Karena selain pendapatan per kapita yang lebih besar, harga BBM bersubsidi ada yang sudah mencapai Rp6.000 per liter. Harapannya, penaikan ini akan menambah ketersediaan bahan bakarnya dan pembeli pun beralih ke SPBU,” katanya. 

Perluasan nasabah juga menjadi salah satu solusi menekan perlambatan pertumbuhan tersebut. Perbankan juga masih membuka cabang untuk menambah penetrasi kepada masyarakat. (wde)

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia, perbankan, bank mandiri, balikpapan, bbm bersubsidi, dpk, bank bni, asbisindo

Sumber : Rachmad Subiyanto

Editor : Wiwiek Endah

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top