Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ternyata, Multifinance Masih Andalkan Pinjaman Asing Rp100 Triliun Lebih

Meski sejumlah perusahaan pembiayaan alias multifinance gencar menggenjot diversifikasi sumber pendanaan, tetapi opsi pinjaman perbankan, terutama joint financing masih menjadi andalan utama di tengah ketatnya likuiditas.
Amanda Kusumawardhani
Amanda Kusumawardhani - Bisnis.com 26 Januari 2015  |  20:36 WIB

Bisnis.com,JAKARTA — Meski sejumlah perusahaan pembiayaan alias multifinance gencar menggenjot diversifikasi sumber pendanaan, tetapi opsi pinjaman perbankan, terutama joint financing masih menjadi andalan utama di tengah ketatnya likuiditas.

Mengutip data Bank Indonesia (BI) per November 2014, pinjaman yang diperoleh multifinance mencapai Rp249,288 triliun, dengan rincian utang lokal sekitar Rp138,243 triliun, dan pinjaman asing Rp111,045 triliun.

Dari keseluruhan pinjaman tersebut, porsi bank lokal dan domestik sebesar masing-masing Rp133,028 triliun, dan Rp99,851 triliun. Sisanya, pinjaman dari lembaga pembiayaan nonbank hanya Rp16,408 triliun pada periode yang sama.

Capaian tersebut tercatat mengalami kenaikan 4,3% dari November 2013 senilai Rp238,959 triliun year-on-year (yoy).  Adapun, pinjaman perbankan juga tergenjot hingga 3,17% dari Rp225,724 triliun pada November 2013 menjadi Rp232,878 per November tahun lalu.

Sebagai gambaran, sebagian besar multifinance masih mengandalkan joint financing dengan perusahaan induknya yang notabene merupakan induknya. Pendanaan dengan skema joint finacing lebih mudah dilakukan karena mayoritas risiko yang muncul menjadi risiko perusahaan induk, dan suku bunga yang ditawarkan lebih kompetitif.

Sebut saja,  beberapa perusahaan pembiayaan yang masih terafiliasi dengan perbankan misalnya PT Mandiri Tunas Finance (MTF), PT BCA Finance, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) masih mengandalkan sumber pendanaan melalui skema joint financing.   

“Sepanjang 2014, pertumbuhan utang bank mengalami kenaikan paling besar yakni 39% oleh PT Wahana Ottomitra Finance Tbk [WOMF], disusul dengan PT Verena Multi Finance Tbk. 23%, dan Adira Finance sebesar 12%,” ungkap Head of Debt Research PT Danareksa Sekuritas Yudistira Slamet dalam risetnya baru-baru ini.

Padahal, pada saat yang sama, suku bunga pinjaman rupiah selalu mengalami tren peningkatan sejak awal tahun lalu. Berdasarkan alasan yang sama, beberapa perusahaan pembiayaan membukukan kenaikan beban dana dengan rata-rata 13% per September 2014 sehingga menggerus laba bersih pada kuartal III/2014.

Untuk menyiasati hal tersebut, industri multifinance menggenjot pinjaman luar negeri hingga Rp111,045 triliun pada November tahun lalu, atau naik 10,7% dibandingkan November 2013.

“Kami tidak akan bergantung dari satu sumber pendanaan saja karena risiko cukup besar. Jika ditanya, kemana tren pinjaman Adira Finance tahun ini, ya kami akan mencari pendanaan yang paling kompetitif, entah di lokal atau mancanegara,” kata  Direktur Keuangan Adira Finance I Dewa Made Susila.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perusahaan pembiayaan
Editor : Redaksi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top