Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Marjin Bunga Tergerus, Program Berhadiah dan e-Banking Jadi Andalan Bank

Beberapa bank dengan modal inti di bawah Rp30 triliun mengandalkan variasi produk tabungan dan pengembangan layanan elektronik banking untuk menggaet dana murah pada tahun ini sekaligus menahan laju tergerusnya marjin bunga bersih.
Destyananda Helen
Destyananda Helen - Bisnis.com 16 April 2015  |  02:29 WIB
Marjin Bunga Tergerus, Program Berhadiah dan e-Banking Jadi Andalan Bank
Kartu kredit - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA—Beberapa bank dengan modal inti di bawah Rp30 triliun mengandalkan variasi produk tabungan dan pengembangan layanan elektronik banking untuk menggaet dana murah pada tahun ini sekaligus menahan laju tergerusnya marjin bunga bersih.

PT Bank Windu Kentjana International misalnya. Direktur Utama Bank Windu Luianto Sudarmana mengatakan strategi peningkatan current account and saving account (CASA) merupakan fokus di tahun ini untuk mengerek net interest margin (NIM) yang sempat tergerus pada 2014.

“Kami akan tingkatkan CASA lewat program-program tabungan dan e-banking,” ujar Luianto ketika dihubungi Bisnis, belum lama ini.

Secara keseluruhan, Luianto mengakui tahun ini likuiditas masih menjadi tantangan. Menurutnya, selain meningkatkan CASA, bank dengan modal inti senilai Rp1,03 triliun pada akhir 2014 ini juga bakal mengerem laju penyaluran kredit. Dengan demikian, Luianto menyebutkan pihaknya membidik loan to deposit ratio (LDR) akan dijaga di posisi 80%-85%. 

Tahun ini, Bank Windu menargetkan kredit dan dana pihak ketiga (DPK) akan tumbuh sejalan di posisi 15%. Luianto sempat berujar tahun ini perusahaan membidik sektor perdagangan dan manufaktur menjadi fokus penyaluran kredit.

Dari laporan keuangan emiten berkode saham MCOR tersebut, sepanjang tahun lalu, NIM perusahaan tergerus 111 basis poin (bps) dari 4,87% pada akhir 2013 menjadi 3,76%. Di sisi lain,  LDR MCOR naik 130 bps dari 82,73% pada Desember 2013 menjadi 84,03% di bulan yang sama tahun lalu. 

Sepanjang tahun lalu, MCOR juga mencatatkan posisi CASA sebesar 14,1% atau turun dari 18,5% pada 2013. Penurunan porsi dana murah tersebut ditopang peningkatan deposito yang menempati 85,89% dari total DPK MCOR pada 2014 atau naik dari 81,44% di akhir 2013. Pada tahun  lalu, pertumbuhan penghimpunan deposito di Bank Windu memang terpantau cukup tinggi atau naik 31,41%, sehingga mendorong DPK MCOR naik sebesar 24,59% secara year on year (y-o-y) pada 2014 menjadi Rp8,18 triliun.

Sementara itu, PT Bank Sumut pun tahun ini mengincar dana retail. Direktur Utama Bank Sumut Edhie Rizliyanto mengatakan tahun ini pihaknya membidik DPK bakal tumbuh 12%. “Bulan ini kami akan launching produk Martabe School [untuk menyasar dana retail]. Selain itu penambahan fitur layanan juga diharapkan akan meningkatkan funding,” ujar Edhie.

Tahun ini, bank dengan modal inti sebesar Rp1,7 triliun pada Desember 2014 tersebut, juga akan memperkuat jaringan elektronik dengan menggandeng penyedia jasa lain. Hingga kini, anjungan tunai mandiri (ATM) Bank Sumut telah terkoneksi dengan jaringan ATM Bersama dan Bankcard Malaysia. Edhie menuturkan sepanjang kuartal I/2015, DPK yang dihimpun perusahaan tumbuh di atas proyeksi atau sebesar 107% dari target yang dibidik.

Dari laporan keuangan bank yang 52,88% sahamnya dimiliki Pemerintah Provinsi Sumatera Utara ini, tercatat pada Desember 2014, Bank Sumut menghimpun dana murah sebesar Rp10,38 triliun atau naik 4,4% y-o-y. Di sisi lain, deposito terpantau naik lebih agresif atau sebesar 24,6% y-o-y menjadi Rp7,46 triliun. 

Dari laporan tersebut juga menunjukkan sepanjang tahun lalu, NIM Bank Sumut tergerus 120 bps menjadi 8,14%. Sementara itu, LDR perseroan tercatat turun dari 107,31% pada akhir 2013 menjadi 95,89% di periode yang sama tahun lalu.

Adapun, Director Financial Service Ratings Standard & Poor’s Ratings Services Ivan Tan sebelumnya memproyeksikan kondisi likuiditas tahun ini bakal tetap ketat dan akan berpengaruh pada NIM bank, terutama bagi entitas dengan modal inti di bawah Rp30 triliun. Kebalikannya, tambah Ivan, bagi 4 bank dengan modal inti di atas Rp30 triliun, akan mengalami peningkatan NIM. Proyeksi ini didasarkan pada infrastruktur bank-bank besar yang mampu meningkatkan penghimpunan dana murah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

simpanan
Editor : Setyardi Widodo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top