Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BI Rate Diproyeksi Tetap 7,5%

Kendati pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I/2015 melambat di level 4,7%, peluang menurunkan dosis tingkat suku bunga (BI rate) dari level 7,5% dinilai tidak bisa diambil bulan ini.
Kurniawan A. Wicaksono
Kurniawan A. Wicaksono - Bisnis.com 19 Mei 2015  |  22:00 WIB
Tekanan pada rupiah masih akan kuat pada Mei-Juni.  - Bisnis.com
Tekanan pada rupiah masih akan kuat pada Mei-Juni. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Kendati pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I/2015 melambat di level 4,7%, peluang menurunkan dosis tingkat suku bunga (BI rate) dari level 7,5% dinilai tidak bisa diambil bulan ini.

Kepala Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih menilai penurunan BI rate tidak akan menolong pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek khususnya kuartal II karena tidak selalu diikuti dengan penurunan suku bunga kredit bank. Sementara itu, daya beli masyarakat juga sedang turun.

"BI rate diturunkan itu sebenarnya berfungsi mendorong pelaku usaha untuk berproduksi. Tapi mereka berproduksi kalau permintaan [masyarakat] naik. Enggak ngefek kok [BI rate] turun satu kali," ujarnya kepada Bisnis.com, Senin (18/5/2015).

Dia mencatat saat ada penurunan suku bunga acuan dari 7,75% menjadi 7,5% pada Februari lalu, tidak diikuti penurunan bunga kredit. Bahkan hingga akhir kuartal I, suku bunga kredit untuk modal kerja naik 18 basis poin.

Selain tidak akan berpengaruh besar pada pertumbuhan ekonomi jangka pendek, kondisi nilai tukar rupiah yang sudah tembus level Rp13.000 per dolar Amerika Serikat (AS) juga harus diantisipasi. Jika dosis dikurangi, ada potensi risiko pelemahan rupiah ke level yang lebih dalam.

Dalam Jakarta Interbank Spot Dollar Rate, setelah tembus di level Rp13.022 per dolar AS pada 5 Maret 2015, nilai tukar rupiah tidak jauh dari level Rp12.900-Rp13.000 per dolar AS. Pada 16 Maret 2015, nilai tukar mata uang Garuda ini berada di level Rp13,237 per dolar AS. Pekan lalu (15/5), rupiah masih dipatok Rp13.090 per dolar AS.

Menurutnya, tekanan pada rupiah masih akan kuat pada Mei-Juni karena jatuh tempo pembayaran repatriasi ke luar negeri dan ekspektasi kenaikan suku bunga acuan AS (Fed fund rate) yang kemungkinan bisa dimulai pertemuan Fed Open Market Committee (FOMC) Juni nanti.

Kendati pasar meyakini otoritas moneter Negeri Paman Sam tidak akan mungkin memulai momentum normalisasi suku bunga pada medio 2015, sambungnya, otoritas moneter tetap harus mengantisipasi sikap bank sentral AS.

Apalagi, seperti diberitakan sebelumnya, Gubernur the Fed San Fransisco John Williams mengatakan terlepas dari kontraksi data beberapa bulan terakhir secara keseluruhan tren di sektor ketenagakerjaan tetap positif dan mensinyalkan inflasi berpotensi kuat kembali ke kisaran 2% per tahun secara konsisten seperti yang selama ini disasar oleh the Fed.

Ekonom Bank Internasional Indonesia (BII) Tbk Juniman juga memproyeksi akan ada penahanan tingkat suku bunga acuan di level 7,5% yang dilakukan Bank Indonesia bulan ini. Tekanan pada rupiah menjadi salah satu risiko yang akan dilihat.

"Rupiah yang tertekan akan membuat imported inflation sehingga BI akan sulit menjaga target inflasi 4% 1%. Selain itu, menjelang puasa dan Lebaran inflasi cenderung tinggi," ujarnya.

Ekonom PT Bank Mandiri Andry Asmoro juga berekspektasi BI akan menahan BI rate bulan ini. Menurutnya, potensi penurunan dosis kebijakan moneter itu baru berpeluang di Juni atau Juli mendatang karena saat ini tekanan rupiah masih besar.

"Terkait pertumbuhan ekonomi, BI sepertinya masih akan pakai macro prudential measures," katanya. []

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pertumbuhan Ekonomi BI Rate
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top