Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

PAI: Indonesia Butuh Banyak Tenaga Pengelola Risiko Keuangan

Persatuan Aktuaris Indonesia (PAI) menyatakan tenaga aktuaris atau ilmu tentang pengelolaan risiko keuangan di masa yang akan datang di Indonesia masih rendah.
Keuangan/Ilustrasi-Hartaku.com
Keuangan/Ilustrasi-Hartaku.com

Bisnis.com, JAKARTA - Persatuan Aktuaris Indonesia (PAI) menyatakan tenaga aktuaris atau ilmu tentang pengelolaan risiko keuangan pada masa mendatang di Indonesia masih rendah.

"Tenaga aktuaris di Indonesia masih rendah yakni hanya sekitar 400 orang, sedangkan kebutuhan masyarakat akan perlindungan jiwa dan kesehatan diprediksi akan terus meningkat," kata Ketua Umum PAI Rianto Djojosugito kepada Antara di Jakarta, melalui keterangan tertulis, Sabtu (3/12/2016).

Rianto juga menjelaskan saat ini Malaysia adalah salah satu negara yang telah banyak menghasilkan tenaga aktuaris. "Aktuaris Malaysia telah menyebar ke negara-negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia, di Singapura saja, sebanyak 60 persen tenaga aktuarisnya berasal dari Malaysia," kata Rianto.

Menurutnya, setiap tahun Indonesia baru bisa menciptakan sekitar 40 aktuaris. Dengan demikian, Indonesia dinilai masih banyak membutuhkan tenaga aktuaris pada tahun-tahun mendatang.

Deputi Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Edy Setiadi seusai menyaksikan penandatanganan kerja sama antara AXA Mandiri & AXA dengan Universitas Gajah Mada, mengatakan saat ini di Indonesia kurang lebih ada 107 perusahaan asuransi yang semuanya membutuhkan tenaga aktuaris.

Hal tersebut belum termasuk perusahaan bidang lain yang membutuhkan aktuaris, sehingga perkiraan kebutuhan seribu tenaga aktuaris itu adalah angka minimum dalam setahun. "Tiap tahun makin tinggi, padahal bukan hanya industri asuransi yang membutuhkan aktuaris. Kalau tidak ada ya terpaksa impor," kata Edy Setiadi.

Edy menambahkan pihaknya tidak mengharapkan tenaga aktuaris di Indonesia didominasi oleh tenaga asing. Dia menginginkan orang Indonesia mampu menjadi tuan di tanahnya sendiri.

Pada kesempatan yang sama, Country CEO AXA Indonesia Paul-Henri Rastoul menjelaskan ada perbedaan sistem asuransi antara Malaysia dan Indonesia, di Malaysia, masyarakatnya diwajibkan oleh pemerintah untuk memiliki asuransi, sedangkan di Indonesia, masyarakatnya boleh memilih apakah ingin memiliki asuransi atau tidak.

Menurut Paul, hal tersebut yang membuat Malaysia saat ini memiliki aktuaris yang melimpah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Sumber : Antara
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper