Asuransi Syariah Belum Jadi Pilihan karena 3 Faktor ini

Ada tiga faktor utama mengapa asuransi syariah belum menjadi pilihan masyarakat Indonesia. Pertama, secara umum asuransi belum menjadi kebutuhan utama masyarakat, khususnya di kalangan ekonomi menengah ke bawah.
Reni Lestari | 20 Februari 2018 01:47 WIB
Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia - AASI

Bisnis.com, JAKARTA—Sebagai negara mayoritas muslim terbesar di dunia, Indonesia masih tertinggal dari Malaysia dalam hal penetrasi produk asuransi syariah. Padahal secara demografi, penduduk muslim Malaysia sebesar 20 juta atau 65%, kalah jauh dibanding Indonesia yang mencapai 222 juta atau 87% dari total penduduk. 

Tahun lalu di Malaysia, asuransi umum syariah tumbuh 5,8%, mengungguli pertumbuhan asuransi umum konvensional yang hanya sebesar 2,8%.

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) Ahmad Sya'roni menjelaskan ada tiga faktor utama mengapa asuransi syariah belum menjadi pilihan masyarakat Indonesia. Pertama, secara umum asuransi belum menjadi kebutuhan utama masyarakat, khususnya di kalangan ekonomi menengah ke bawah.  

"Asuransi itu kebutuhan nomor sekian dari kebutuhan pokok kita," kata Sya'roni kepada Bisnis Senin (19/2/2018). 

Kedua, tingkat literasi yang kurang masif mengenai asuransi syariah dan perbedaannya dengan produk konvensional. Mengenai upaya edukasi tersebut, Sya'roni mengakui hal itu masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi industri asuransi syariah. 

"Kelihatannya memang harus dikejar lebih jauh karena pertumbuhan asuransi syariah itu sangat tergantung pada literasi pada masyarakat," ujarnya. 

Ketiga, hampir semua produk syariah dikembangkan oleh perusahaan yang awalnya memasarkan asuransi konvensional. Pada akhirnya produk syariah kalah pamor dibanding asuransi konvensional yang telah lebih dulu ada. 

Padahal secara regulasi, Sya'roni mengatakan banyak ruang kemudahan yang diberikan regulator untuk membantu industri di sektor ini lebih berkembang. "Yang lebih dikenal akhirnya yang konvensionalnya, karena mereka yang punya produk pertamanya," imbuhnya.

CEO Asuransi Jiwa Generali Indonesia Edy Tuhirman mengamini poin ketiga yang disampaikan Sya'roni di atas. Menurutnya, asuransi syariah yang kini dipasarkan belum bisa meraih simpati masyarakat, karena bentuknya yang relatif tak jauh berbeda dengan konvensional. 

Hal itu menjadi tantangan bagi pelaku industri untuk menghadirkan produk yang sama sekali berbeda dan murni mengadopsi sistem syariah. 

"Nasabah sudah pintar, bisa memilih. Kalau sama saja, ya maaf deh," ujar Edy.  

 

BI/Finansial 
15/2/2018
Reni Lestari/C154
Tag : asuransi syariah
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top