Ayo Ramai-ramai Jadi Aktuaris, Ini Benefitnya

Ketua Umum Persatuan Aktuaria Indonesia (PAI) Fauzi Arfan mengatakan kesempatan generasi muda untuk menekuni profesi ini masih sangat terbuka. Selain jumlahnya yang masih relatif sedikit di Indonesia, kebutuhannya pun semakin tumbuh, tidak hanya dari industri asuransi."Peluang bekerjanya lebih bagus, renumerasi yang didapat juga lebih bagus dan jumlahnya sedang dicari," kata Fauzi kepada Bisnis, Senin (26/2/2018).
Reni Lestari | 26 Februari 2018 21:18 WIB
Chief Financial Officer Prudential Indonesia Aaron Fryer (kiri) berbincang dengan Rektor Universitas Indonesia Muhammad Anis, seusai peluncuran program studi S1 Ilmu Aktuaria, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, di Depok, Jawa Barat, Senin (14/8). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Pada 2013, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencanangkan program 1.000 aktuaris dalam 5 tahun. Tahun ini, target tersebut belum bisa tercapai karena saat ini hanya terdapat 536 tenaga aktuaria di Indonesia. Dari jumlah itu pun, hanya 265 yang berstatus akturis, 271 sisanya masih menyandang ajun aktuaris.

Ketua Umum Persatuan Aktuaria Indonesia (PAI) Fauzi Arfan mengatakan kesempatan generasi muda untuk menekuni profesi ini masih sangat terbuka. Selain jumlahnya yang masih relatif sedikit di Indonesia, kebutuhannya pun semakin tumbuh, tidak hanya dari industri asuransi.

"Peluang bekerjanya lebih bagus, renumerasi yang didapat juga lebih bagus dan jumlahnya sedang dicari," kata Fauzi kepada Bisnis, Senin (26/2/2018).

Di dunia internasional, lanjut Fauzi, profesi aktuaris dihargai mahal dan berdasarkan survei selalu masuk lima besar pekerjaan dengan renumerasi tertinggi.

Tak heran karena di Indonesia saja, untuk menjadi aktuaris tidaklah mudah. Seorang aktuaris harus menempuh 10 mata ujian yang diselenggarakan PAI, sebelum akhirnya mendapat gelar Fellow of the Society of Actuaries of Indonesia (FSAI). Sementara ajun aktuaris adalah mereka yang baru menyelesaikan delapan mata ujian dan mendapat gelar Associate of the Society of Actuaries of Indonesia (ASAI).

Sebanyak 10 mata ujian tersebut bisa ditempuh dalam waktu 5 hingga 7 tahun. Namun demikian, untuk menjembatani antara kebutuhan dan ketersediaan aktuaris, PAI telah bekerjasama dengan delapan universitas dalam program penyetaraan. Mahasiswa yang telah lulus mata kuliah tertentu dengan nilai memuaskan, akan dinyatakan melampaui mata ujian aktuaris.

Sebanyak delapan universitas tersebut di ataranya, Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Brawijaya dan Universitas Parahyangan.

Ada pula sejumlah universitas yang telah membuka jurusan aktuaria, diantaranya UI, ITB, ITS, IPB, dan Unpad. Fauzi pun mengimbau anak-anak muda untuk tak segan memilih program studi aktuaria.

"Aktuaris ini profesi yang sangat menjanjikan, tidak hanya tahun ini, bahkan 10 sampai 20 tahun mendatang masih terus diperlukan," ujarnya.

Dia bercerita, di University of Waterloo, salah satu universitas tertua di Kanada, jurusan Ilmu Aktuaria sangat diminati dan diperebutkan oleh banyak orang karena peluang kerja dan benefit yang menjanjikan. Ia berharap program studi yang sama di universitas di Indonesia pun bisa mendulang banyak mahasiswa, yang akhirnya akan memenuhi kebutuhan aktuaris dalam negeri.

"Untuk masuk kesitu challenge-nya luar bisa karena mereka tahu lulusannya mendapatkan nilai yang cukup bagus dari sisi benefit. Mudah-mudahahan Indonesia arahnya bakal ke arah sana," tutup Fauzi.

Tag : aktuaris
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top