Laba Bersih Bank Umum Tembus Rp131,15 Triliun

Kinerja perbankan secara umum sepanjang 2017 cukup moncer, bila dilihat dari pertumbuhan laba yang cukup signifikan, yang didorong efisiensi dan restrukturisasi kredit bermasalah.
Ropesta Sitorus | 26 Februari 2018 15:14 WIB
Nasabah berjalan di dekat mesin anjungan tunai mandiri, di Jakarta, Senin (18/9). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja perbankan secara umum sepanjang 2017 cukup moncer, bila dilihat dari pertumbuhan laba yang cukup signifikan, yang didorong efisiensi dan restrukturisasi kredit bermasalah.

Mengacu pada data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terbaru, per Desember 2017, total laba sebelum pajak bank-bank umum sepanjang tahun lalu mencapai Rp166,89 triliun.

Realisasi tersebut tumbuh 21,4% secara year on year dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya sebesar Rp137,47 triliun.

Adapun, perolehan laba bersih setelah dikurangi taksiran pajak pada 2017 mencapai Rp131,15 triliun, tumbuh 23,0% dibandingkan dengan realisasi pada 2016 sebesar Rp106,54 triliun.  

Kenaikan laba bersih tersebut merupakan yang tertinggi dalam 5 tahun terakhir. Pada 2015, saat laba bank turun 6,7% yakni menjadi Rp104,63 triliun dari Rp112,21 triliun pada tahun sebelumnya.

Bila dilihat dari penopangnya, kenaikan laba tersebut tidak banyak ditopang kenaikan pendapatan operasional, baik bunga maupun nonbunga.

Pasalnya, pendapatan bunga bersih bank umum hanya tumbuh satu digit 7,3% secara tahunan, yakni dari Rp342,84 triliun menjadi Rp368,1 triliun.

Di sisi lain, komponen pendapatan operasional selain bunga justru turun 7,2% dari Rp249,69 triliun menjadi Rp231,49 triliun.

Penurunan tersebut dapat ditutupi pengurangan beban sebesar 7,0% dari Rp456,24 triliun menjadi Rp424,22 triliun. Penebalan untung juga terdorong oleh kenaikan di sisi laba non operasional yang tumbuh 46%.

Sejumlah ekonom dan bankir yang dihubungi Bisnis memandang bahwa kenaikan laba tersebut merupakan efek dari upaya efisiensi dan bersih-bersih kredit bermasalah (NPL) yang dilakukan bankir sejak beberapa tahun sebelumnya.

Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede mengatakan profitabilitas perbankan pada tahun 2017 masih tumbuh meskipun tren margin bunga bersih (net interest margin/NIM) cenderung menurun menjadi 5,32%, dari posisi 5,63% pada akhir 2016.

“Secara keseluruhan, profitabilitas perbankan cenderung membaik karena penurunan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang pertumbuhannya melambat menjadi 2,8% pada akhir tahun 2017 dari tahun sebelumnya yang masih tumbuh hingga 34%,” katanya kepada Bisnis, Minggu (25/2/2018).

Kepala Ekonom PT Bank Bukopin Tbk. Sunarsip menuturkan, laba bank selama 2017 ditopang oleh pendapatan bunga, efisiensi, dan hasil dari restrukturisasi NPL.

“Tahun 2017, bank-bank juga sudah mulai menikmati hasil dari program restrukturisasi kredit bermasalah. Beberapa bank yang di tahun 2016 mengalami penurunan kinerja akibat kredit bermasalah, di 2017 sudah bisa menikmati kenaikan pendapatan dari hasil restrukturisasi NPL,” katanya.

Kinerja yang positif dari sisi pendapatan bunga, juga ditopang oleh efisiensi sisi pendanaan, terutama faktor penurunan suku bunga simpanan yang cukup besar. Dalam 2 tahun terakhir, suku bunga deposito turun sebesar 186 bps, sedangkan dari sisi bunga kredit turun 138 bps, sehingga bank menikmati spread bunga yang cukup besar.

“Kondisi ini tentunya mendorong kenaikan laba dari sisi efisiensi biaya. Kenaikan laba bank juga ditopang oleh fee based income yang cukup positif seiring dengan semakin besarnya features transaksi yang ditawarkan oleh bank,” tambah Sunarsip.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai growth laba bersih bank pada 2017 cukup tinggi dari sisi persentase karena beberapa bank, terutama bank pemerintah, sudah melakukan restrukturisasi kredit macet.

Bhima melanjutkan, dari sisi kinerja penyaluran pertumbuhan kredit, pertumbuhan kinerja bank hanya satu digit, di kisaran 8%. Sementara itu, masih masih harus menanggung beban biaya bunga karena dana simpanannya tumbuh signifikan di atas 9%.

“Jadi satu-satunya hal yang menjelaskan laba jumbo adalah restrukturisasi kredit macet dan penugasan BUMN untuk support proyek strategis pemerintah khususnya infrastruktur,” tuturnya.

Dilihat dari penyebarannya, mayoritas laba tersebut dikuasai oleh bank BUKU IV, khususnya bank pelat merah yang mengantongi lebih dari separuh capaian laba bersih.

Keempat bank BUMN di Tanah Air yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., membukukan total laba bersih Rp66,31 triliun sepanjang 2017.

Realisasi itu tumbuh 22,8% sebagai imbas dari aksi resktrukturisasi yang dilakukan bank BUMN sejak dua tahun terakhir.  

Tag : laba bersih, bank umum
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top