Dampak Kenaikan Bunga Kredit Pada Akhir Tahun

Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. memperkirakan suku bunga acuan Bank Indonesia akan naik sebanyak dua kali dalam tahun ini.
Nirmala Aninda | 17 Mei 2018 19:01 WIB
Head of Macroeconomic & Financial Market Research PT Bank Mandiri Tbk. Andry Asmoro (kanan) bersama Chief Economist Anton H Gunawan menyampaikan paparan proyeksi makroekonomi Semester II-2017, di Jakarta, Rabu (4/10). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. memperkirakan suku bunga acuan Bank Indonesia akan naik sebanyak dua kali dalam tahun ini.

Menurut perkiraan, suku bunga acuan atau BI 7 days repo rate akan meningkat setidaknya 25 basis poin pada setiap kali kenaikan menjadi 4,75% dari posisi saat ini 4,25%.

Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, dampak dari kenaikan suku bunga acuan terhadap suku bunga kredit (lending rate) baru akan terasa 2-3 kuartal setelah kenaikan diberlakukan.

"Efek kenaikan suku bunga acuan terhadap lending rate mungkin paling cepat di awal tahun depan," ujarnya di Jakarta, Kamis (17/5/2018).

Sementara itu, untuk suku bunga deposito diperkirakan dampaknya baru akan terasa 1-2 kuartal setelah penyesuaian suku bunga acuan diberlakukan.

Pada kesempatan yang sama, Head of Equity Research Mandiri Sekuritas Adrian Joezer menyampaikan, penyesuaian suku bunga kredit tidak akan mengalami dampak langsung karena ada sejumlah faktor yang mempengaruhi transisi.

"Adjustment dari lending rate itu tidak akan berubah sesaat setelah suku bunga naik, dilihat dari loan growth dan NPL," kata Adrian.

Menurutnya sampai dengan kuartal I/2018 saja pertumbuhan kredit perbankan masih bergerak lamban. Berdasarkan Statistik Perbankan Indonesia yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan, sampai dengan Maret 2018 kredit perbankan tumbuh sebesar 8,76%.

Sementara itu untuk rasio kredit bermasalah (NPL) bank umum sampai dengan kuartal I/2018 tercatat sebesar 2,75% atau senilai Rp130.458 triliun. Sejumlah bank, termasuk Bank Mandiri sedikit lebih selektif dalam menyalurkan kredit untuk menjaga NPL.

"Lending rate itu naiknya satu banding satu dengan kenaikan suku bunga per basis poinnya. Kami lihat [lending rate] tidak langsung naik karena loan growth belum cukup tinggi," katanya.

Dari segi likuiditas, kondisinya cukup menantang jika pertumbuhan penyaluran kredit diharapkan bergerak cepat. Hal ini disebabkan oleh lesunya likuiditas dalam valuta asing.

Sampai dengan kuartal I/2018 dana pihak ketiga (DPK) perbankan tercatat tumbuh sebesar 7,66% menjadi Rp5.293 triliun.

Meski demikian DPK dalam valuta asing mengalami sedikit penurunan sebesar 0,52% menjadi Rp736 triliun dari Rp740 triliun pada kuartal I/2017.

Ketatnya likuiditas perbankan juga dapat dilihat dari loan to deposit ratio (LDR) bank umum sampai dengan kuartal I/2018 yang mencapai 90,19%, lebih tinggi dari periode yang sama tahun sebelumnya yakni 89,12%.

Tag : bank mandiri
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top