EDUKASI DUIT: Nabung Tapi Berkurang, Kok Bisa?

Saat itu, Dahlan Iskan hendak bepergian ke Amerika Serikat. Dirinya sudah menyiapkan uang rupiah. Tapi uang rupiah yang disiapkan menjadi tidak begitu berarti di mata dolar karena pelemahan rupiah.
News Writer | 23 Agustus 2018 13:30 WIB
Goenardjoadi Goenawan. - Bisnis/swi

Bisnis.com, JAKARTA — Dalam tulisannya, mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan bercerita bahwa dirinya kehilangan uang Rp1 miliar hanya dalam semalam.

Kira-kira cerita singkatnya seperti ini. Saat itu, Dahlan Iskan hendak bepergian ke Amerika Serikat. Dirinya sudah menyiapkan uang rupiah. Tapi uang rupiah yang disiapkan menjadi tidak begitu berarti di mata dolar karena pelemahan rupiah.

Di situ, Dahlan iskan menulis sebagian uangnya hilang begitu saja. Padahal uang itu ada di bank. Masih ada. Tapi nilainya begitu merosot. “Saya merasa telah kecopetan. Atau kena rampok. Uang senilai Rp20 miliar itu tinggal Rp19 miliar nilainya. Kehilangan Rp1 miliar. Hanya dalam waktu semalam,” begitu kira-kira Dahlan iskan menceritakan.

Apa yang ingin saya garisbawahi dari cerita Pak Dahlan tadi. Rupanya menabung atau menyimpan uang di bak saja tak menjamin kekayaaan. Istilah nabung pangkal kaya, tidak lagi.

Para pensiunan dulu bisa hidup dengan tabungan Rp600 juta, bunganya sebulan Rp3 juta, bisa cukup untuk makan. Kalau sekarang, bunga yang diterima Rp1,5 juta. Habis buat ongkos beli bensin.

Coba perhatikan pensiunan jenderal mengaku gajinya saat pension hanya Rp5 juta.  Itu level jenderal.  Bagaimana dengan di bawahnya? 

Zaman old pensiunan bisa hidup hedonis setiap malam dansa.  Sekarang bingung uang pensiun sekitar Rp2 miliar segera habis.  Tergerus inflasi.  Pensiunan CEO sekarang harus kerja lagi kontrak. 

Sekarang rupiah bukan lagi tergolong kapital, dalam artian memiliki nilai simpan. Rupiah sudah menjadi arus atau current,  arus seperti rumah, air PAM sudah mengalir langsung tidak perlu tandon. 

Dengan demikian yang benar adalah kapital dalam bentuk aset.  Dan cash digunakan dari fasilitas kredit jangka panjang. 

Beberapa teman salah mengatur fasilitas bank, mereka membayar cicilan developer 50 bulan.  Akibatnya sekarang nilai uang yang tertanam tidak bisa dijual,  tidak bisa dijamin ke bank,  karena sertifikatnya belum jadi.

Oleh karena itu perlu disadari bahwa akses fasilitas kredit bank itu penting. Semisal Anda sudah punya solar cells di rumah,  bukan berarti Anda harus memutus sambungan listrik milik PLN. Kita enggak akan pernah tahu sewaktu hujan atau mendung sehingga kesulitan listrik. 

Beberapa pengusaha memandang banyak uang,  sembrono menyicil apartmen cicilan developer.  Ternyata pada saat mendung, butuh dana, surat yang dimiliki hanyalah perjanjian beli.  Seperti Anda beli kulkas, hanyalah dapat faktur kulkas.  Bukan berarti sertifikat kepemilikan.

Dengan kondisi begini,  yang diuntungkan adalah yang memiliki aset dan fasilitas kredit.  Karena nilai aset naik terus dengan devaluasi,  nilai kredit menurun dalam beberapa tahun nilai kredit mengecil dibandingkan dengan kenaikan harga barang-barang.

Rezim moneter sekarang dengan masuknya G20, Indonesia menganut rezim pertambahan suplai uang beredar.  Akibatnya secara jangka panjang tingkat bunga menurun. Dibandingkan dengan 2006, suku bunga Bank Indonesia saat iti masih 12%, sekarang turun banyak. Ibarat air PAM diproduksi terus menerus,  uang diproduksi dalam bentuk kredit bank.

Penulis

Ir Goenardjoadi Goenawan, MM

Motivator Uang.

Penulis buku seri Money Intelligent, New Money, dan New Money: Riba Siapa Bilang?

Untuk pertanyaan bisa diajukan lewat: goenardjoadigoenawan@gmail.com

Tag : Edukasi Duit
Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top