Agen Profesional Dorong Penetrasi Asuransi

Agen yang profesional dapat mendorong penetrasi asuransi jiwa di Indonesia yang saat ini angkanya masih rendah.
Azizah Nur Alfi | 31 Agustus 2018 17:39 WIB
Ilustrasi kegiatan agen asuransi - Antara/Andika Wahyu

Bisnis.com, JAKARTA - Agen yang profesional dapat mendorong penetrasi asuransi jiwa di Indonesia yang saat ini angkanya masih rendah. 

Country Chair MDRT Indonesia, Glen Alexander Winata optimistis jumlah tertanggung asuransi jiwa akan meningkat seiring dengan masih rendahnya penetrasi asuransi jiwa di Indonesia. Hal ini dapat tercapai dengan mendorong jumlah agen profesional. 

Dia mengatakan salah satu faktor yang menyumbang penetrasi asuransi jiwa masih rendah karena banyaknya agen yang tidak profesional.

"Agen tersebut biasanya tidak serius mempelajari asuransi dan hanya mau menarik komisi, sehingga yang terjadi ketika nasabah membeli asuransi hanya menemukan agen yang hanya menjual asuransi, tanpa menjelaskan prinsip asuransi dan memberikan solusi keuangan dengan baik," katanya dikutip pada Jumat (31/8/2018).  

Sebagai informasi, berdasarkan catatan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), jumlah tertanggung industri asuransi jiwa mengalami penurunan sebesar 9% secara tahunan pada semester I/2018 menjadi 53,27 juta jiwa. Adapun, penetrasi asuransi jiwa dilihat dari besarnya jumlah tertanggung perorangan terhadap jumlah penduduk menunjukkan nilai di angka 6,6%. 

Zone Chair Asia Tenggara 2015-2017 sekaligus Penasihat Komite MDRT Indonesia, Lucia Dewani Soeradji mengatakan banyak oknum agen yang tidak profesional pada akhirnya membentuk opini masyarakat bahwa asuransi tidak menguntungkan. Hal ini terbukti dari angka penetrasi asuransi jiwa masih rendah di tengah jumlah agen yang telah mencapai 500.000 agen. 

"Di Indonesia tantangannya adalah mindset masyarakat Indonesia tentang asuransi. MDRT bertugas mengedukasi masyarakat tentang pentingnya asuransi jiwa. Maka, tantangan kami adalah menciptakan agen-agen profesional," imbuhnya. 

President of MDRT, James D Pittman menuturkan Asia Tenggara menjadi role model bagi pertumbuhan industri asuransi secara global karena ada pertumbuhan kelas menengah. Wilayah ini juga memiliki sistem rekrutmen agen oleh perusahaan asuransi yang menghasilkan agen profesional. 

Di samping itu, perusahaan asuransi jiwa juga memiliki berbagai inovasi produk asuransi. Kedua hal ini dapat mendorong lebih banyak masyarakat yang terlindungi asuransi. "Kelas menengah itu hanya menunggu agen profesional untuk mendatangi dan menelpon mereka," katanya. 

James menambahkan, MDRT memiliki kode etik yang menempatkan nasabah di atas kepentingan para agen. Dengan demikian, jika lebih banyak agen asuransi yang teredukasi, maka akan semakin banyak masyarakat yang terproteksi asuransi. 

Sebagai informasi, MDRT merupakan perkumpulan para profesional asuransi dari seluruh dunia yang telah berdiri sejak 1927. Saat ini keanggotaan MDRT global mencapai lebih dari 65.000 profesional bidang jasa asuransi jiwa dan finansial yang berasal dari 511 perusahaan dari 77 negara di dunia.  Keanggotaan MDRT diakui secara internasional sebagai standar mutu tinggi di dunia jasa asuransi jiwa dan finansial. 

Jumlah anggota MDRT di Indonesia pada 2018 sebesar 2.048 anggota atau meningkat 49% dibandingkan dengan total anggota MDRT pada 2017 sebesar 1.367 anggota. Angka ini masih kurang dari 1% dari total agen asuransi jiwa nasional yang mencapai 500.000 agen. 

Dengan jumlah keanggotaan tersebut, Indonesia masuk dalam peringkat ke-4 untuk kawasan ASEAN. Adapun, peringkat pertama diduduki oleh Thailand dengan 2.237 anggota, diikuti Vietnam sebesar 2.229 anggota, dan Filipina sebanyak 2.068 anggota.

Tag : agen asuransi jiwa
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top