Bank Muamalat Kembali Rencanakan Rights Issue

PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. akan melakukan penambahan modal melalui Penawaran Umum Terbatas (PUT) V dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD).
Muhammad Khadafi | 04 September 2018 21:55 WIB
Pemengang saham Bank Muamalat berdasarkan laporan keuangan perusahaan 2017. - Bisnis/Husin Parapat

Bisnis.com, JAKARTA – PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. akan melakukan penambahan modal melalui Penawaran Umum Terbatas (PUT) V dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD).

Hal itu akan dilakukan setelah mendapatkan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) tanggal 11 Oktober 2018.

Terkait dengan aksi korporasi tersebut perseroan mengeluarkan saham seri B dengan nilai nominal Rp100 per lembar dalam jumlah maksimal Rp20 miliar. Saham baru ini tidak terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan akan diklasifikasikan sebagai modal inti (tier-1).

Direktur Utama Bank Muamalat Achmad Kusna Permana belum bisa menyebutkan pemegang saham yang berkomitmen menggunakan haknya.

“Ini merupakan domain pemegang saham. Saat ini masih dibahas oleh pemegang saham dan keterbukaan informasi tersebut merupakan komitmen Bank Muamalat untuk penambahan modal pada tahun ini,” katanya kepada Bisnis, Selasa (4/9).

Permana melanjutkan, apabila tidak ada atau hanya sebagian pemegang saham yang mengambil haknya, saham baru tersebut akan dibeli oleh pembeli siaga yang ditunjuk kemudian. Jika tidak mengambil hak, pemegang saham eksisting akan terdelusi paling banyak 66,21%.

Mengutip situs resmi perseroan, Selasa (4/9), tiga besar pemilik saham Muamalat adalah Islamic Development Bank dengan 32,74%, Bank Boubyan 22%, dan Atwill Holdings Limited 17,91%.

Kemudian, National Bank of Kuwait 8,45%, IDF Investment Foundation 3,48%, BMW Holdings Limited 2,84%, Reza Rhenaldi Syaiful 1,67%, Dewi Monita 1,67%, Andre Mirza Hartawan 1,66%, Koperasi Perkayuan Apkindo-MPI 1,39%, dan pemegang lainnya 1,39%.

Perseroan memperkirakan PUT VI akan memperkuat struktur permodalan guna mengembangkan pembiayaan syariah yang merupakan kegiatan usaha utama Muamalat. Penambahan modal itu juga diharapkan akan memberikan dampak positif terhadap kondisi keuangan perseroan.

Masalah permodalan menjadi isu utama Bank Muamalat sejak 2015. Sampai akhir Desember 2017, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) Bank Muamalat 13,62%. Namun, pada kuartal II/2018 CAR naik ke level 15,92%.

Kinerja Bank Muamalat tergerus oleh lonjakan non-performing financing (NPF) atau kredit bermasalah. NPF bank syariah itu sempat di atas 5%, lebih tinggi dari batas maksimal ketentuan regulator. Akan tetapi, pada kuartal II/2018 NPF gross Muamalat turun ke level 1,65%.

Skema penambahan modal Bank Muamalat berulang kali tertunda. Pada tahun lalu PT Minna Padi Tbk. bersedia menjadi pembeli siaga 51% saham Muamalat melalui penawaran saham terbatas dengan nilai dana sekitar Rp4,5 triliun.

Namun, rencana itu batal meskipun Minna Padi telah menyetorkan dana sebesar Rp1,7 triliun di dalam rekening penampung. Otoritas tidak memberikan restu rights issue karena tidak ada kejelasan sumber dana aksi korporasi itu.

Tag : bank muamalat
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top