Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dana Pensiun Mesti Bidik Generasi Milenial

Demografi penduduk Indonesia yang menunjukkan besarnya jumlah penduduk di kisaran usia 30 tahun dinilai menjadi landasan penting bagi dana pensiun untuk mulai menyasar generasi milenial.
Annisa Margrit
Annisa Margrit - Bisnis.com 27 September 2018  |  10:59 WIB
Dana Pensiun Mesti Bidik Generasi Milenial
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan sambutan pada seminar nasional di Jakarta, Jumat (14/9/2018). - JIBI/Dedi Gunawan
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA -- Demografi penduduk Indonesia yang menunjukkan besarnya jumlah penduduk di kisaran usia 30 tahun dinilai menjadi landasan penting bagi dana pensiun untuk mulai menyasar generasi milenial.
 
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan saat ini, total aset yang dikelola Industri Keuangan Non Bank adalah sekitar Rp2.279 triliun. Namun, aset dana pensiun hanya Rp266 triliun dari jumlah tersebut atau setara dengan 1,85% dari PDB.
 
"Jumlah dana yang sangat kecil. Di berbagai negara maju, pengelolaan dana pensiun berjumlah sekitar 70%-100% dari PDB," ungkapnya dalam unggahan di akun Instagram resminya, Kamis (27/9/2018).
 
Pernyataan itu disampaikan Sri Mulyani dalam seminar yang digelar Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) di Jakarta, Rabu (26/9).

View this post on Instagram

Saat ini total aset yang dikelola Industri Keuangan Non Bank sekitar Rp 2.279 triliun. Aset dana pensiun sebagai salah satunya berjumlah hanya Rp266 triliun atau 1,85% dari PDB. Jumlah dana yang sangat kecil. Di berbagai negara maju, pengelolaan dana  pensiun berjumlah sekitar 70-100% dari PDB. Dengan demografi Indonesia usia 30 tahun lebih banyak daripada usia di atas 50 tahun, pengelola dana pensiun memiliki  kesempatan untuk mengumpulkan dana kelolaan kepada generasi milenial. Saat ini momen yang tepat untuk melakukan berbagai sosialisasi dan edukasi kepada generasi milenial untuk merencanakan kehidupan. Ini adalah tantangan untuk dapat meningkatkan pengelolaan dana pensiun melalui pendekatan kepada generasi milenial. Selain itu  dengan dinamika ekonomi global berubah secara cepat, penting bagi para pengelola dana pensiun memiliki integritas, kompentensi, dan profesionalisme. Bisnis pengelolaan dana pensiun adalah bisnis yang menjaga amanah, oleh karena itu integritas adalah non negotiable. Dalam situasi yang banyak mengalami perubahan seperti sekarang ini,  pengelola dana pensiun penting dan perlu memahami arah ke depan dari perekonomian sebagai dasar untuk memutuskan untuk pemilihan instrumen investasi yang ada Hal ini semua saya sampaikan pada acara seminar yang diadakan oleh Asosiasi Dana Pensiun Indonesia di Bidakara Jakarta pada hari Rabu 26 September 2018.

A post shared by Sri Mulyani Indrawati (@smindrawati) on


 
Dia melanjutkan demografi Indonesia saat ini sebenarnya menjadi kesempatan bagi para pengelola dana pensiun untuk mengumpulkan dana kelolaan dari generasi milenial. Hal ini bisa dimulai dari melakukan sosialisasi serta edukasi kepada kelompok umur tersebut untuk merencanakan kehidupan mereka di masa depan. 
 
Tentunya, diperlukan pendekatan khusus untuk bisa menarik generasi milenial.
 
Menkeu juga menekankan pentingnya dana pensiun memiliki integritas, kompetensi, dan profesionalisme. 
 
Apalagi, di tengah situasi ekonomi global yang makin dinamis seperti sekarang, pengelola dana pensiun harus memahami arah perekonomian sebagai dasar untuk memutuskan pemilihan instrumen investasi yang ada.
 
"Bisnis pengelolaan dana pensiun adalah bisnis yang menjaga amanah, oleh karena itu integritas adalah non negotiable," tegasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sri mulyani dana pensiun
Editor : Annisa Margrit
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top