Duit Konsorsium tak Cukup Talangi Bank Muamalat

Kendati telah mengantongi restu dari OJK, jalan konsorsium Ilham Habibie untuk menjadi investor PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. masih terganjal ketersediaan dana segar.
Hendri T. Asworo/Muhammad Khadafi | 01 Oktober 2018 11:52 WIB
Skenario penyelamatan Bank Muamalat Tahir vs Ilham Habibie

Bisnis.com, JAKARTA — Kendati telah mengantongi restu dari OJK, jalan konsorsium Ilham Habibie untuk menjadi investor PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. masih terganjal ketersediaan dana segar.

Penyelamatan Bank Muamalat menjadi topik headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Senin (1/10/2018).

Pekan lalu, Ilham Habibie yang juga Komisaris Utama Muamalat, bertemu dengan pengawas Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hadir juga perwakilan konsorsium dari Arifin Panigoro, SSG Capital, dan Lynx Asia.

Dalam pertemuan itu, mereka menyampaikan rencana konsorsium untuk melakukan penyehatan Muamalat, terutama rencana penyuntikan dana. OJK pun memberikan sinyal positif, tetapi meminta Muamalat memenuhi dan melengkapi persyaratan administratif.

Selain itu, karena keterbatasan dana segar, konsorsium yang dipimpin Ilham Habibie itu juga didorong untuk mnggandeng Tahir.

Menurut informasi, konsorsium tersebut melalui Lynx Asia akan menyuntikkan dana sebesar Rp2 triliun pada penawaran saham terbatas.

Penyuntikan dana segar itu dilakukan setelah tukar guling aset bermasalah dengan surat berharga. Aset bermasalah yang ditukarkan mencapai Rp6 triliun, sedangkan surat berharga yang difasilitasi Lynx Asia sebesar Rp8 triliun.

Ada selisih Rp2 triliun yang ditutup Muamalat dengan menerbitkan sukuk sebesar Rp1,6 triliun, dan sisanya Rp400 miliar dibayar tunai. Belakangan, aksi korporasi ini ditolak oleh otoritas karena dinilai tidak memenuhi unsur swap asset.

Dimintai konfirmasi secara terpisah, Tahir menyampaikan bahwa dirinya ingin melihat komitmen dari konsorsium terlebih dahulu, apakah untuk memperbaiki bank atau sebaliknya.

“Kita lihat nanti, apakah para anggota konsorsium benar mau memperbaiki banknya, atau cuma cari untung saja. Di perbankan, yang dicari adalah komitmen dari pemegang saham,” ujarnya kepada Bisnis, Minggu (30/9/2018).

Orang terkaya nomor empat di Indonesia versi majalah Forbes 2018 dengan harta sekitar US$3,5 miliar itu menilai yang dibutuhkan Muamalat saat ini adalah dana segar guna menyuntik permodalan dan membersihkan aset bermasalah.

Skema tukar guling aset bermasalah dengan surat berharga atau swap asset, sambungnya, justru melanggar peraturan dan tidak mungkin disetujui oleh OJK.

“ Tidak . Kalau hanya sekadar cari profit short run, kami tidak tertarik, karena misi saya adalah untuk membuat banknya sehat,” kata Tahir yang juga menantu Mochtar Riady, pendiri Lippo Group.

Tahir mengaku siap menyuntikkan modal ke Muamalat setelah ada keputusan dari OJK apakah melalui konsorsium atau investor strategis. ”Nanti biarkan OJK yang memutuskan.”

Bisnis mencoba menghubungi Ilham Habibie untuk meminta konfirmasi atas penolakan Tahir masuk apabila memakai skema swap asset. Namun, dia tidak merespons. Dirut Muamalat Achmad K. Permana pun tidak menjawab pesan yang dikirimkan Bisnis.

Sementara itu, pemegang saham Muamalat Andre Mirza Hartawan berharap konsorsium bentukan Ilham Habibie dapat membawa dana segar yang cukup seperti diminta OJK. Dengan demikian, suntikan modal dari pemilik Mayapada Group Tahir tidak lagi diperlukan.

Dia menambahkan bahwa pemegang saham mayoritas masih dalam posisi menolak Tahir, kendati otoritas sudah menyatakan bahwa kepemilikan saham existing hanya akan terdelusi apabila tidak berpartisipasi menambah modal, bukan menjadi nol. “Kami memang akan terdilusi kalau tidak berpartisipasi dalam penambahan equity, tetapi nilai saham kami setidaknya masih di par value.”

MEMPERBAIKI BANK

Deputi Komisioner Manajemen Strategis dan Logistik OJK Anto Prabowo menyampaikan bahwa konsorsium itu harus memiliki komitmen untuk memperbaiki bank. “Komitmen untuk mengembangkan Muamalat, tidak sekadar mencari untung.” ujarnya kepada Bisnis, Minggu (30/9/2018).

Menurutnya, OJK lebih memilih penyuntikan dana segar untuk menyehatkan Bank Muamalat sehingga tidak perlu rumit memakai skema tukar guling aset. “Ya konsorsium itu harus fresh money.”

Analis pasar modal Reza Priyambada menilai OJK perlu mempertimbangkan pelonggaran aturan bagi Muamalat terkait dengan penyehatan permodalan guna menghindari dampak yang lebih besar.

“Kalau sudah darurat, sebaiknya dilonggarkan daripada menimbulkan dampak yang lebih negatif. Kecuali, kalau OJK bisa memberikan solusi lain untuk memperkuat permodalannya.”

Anggota Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun berharap ada jalan tengah untuk mengatasi masalah internal pemegang saham existing Muamalat. Dia meminta OJK memberikan penegasan opsi kepada pemilik saham saat ini.

“OJK tinggal memberikan penegasan supaya pemegang saham lama menaikkan setoran modal atau membuka diri bagi masuknya pemegang saham baru yang tentunya akan memengaruhi komposisi kepemilikan saham.”

Tag : bank muamalat
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top